Ia mencatat lonjakan antusiasme yang luar biasa: “Tahun lalu, hanya ada 8 peserta. Sekarang, ada 35 bartender yang ikut serta, sebuah peningkatan yang menunjukkan bahwa teh mulai dilirik sebagai bahan minuman yang trendi,” katanya.
Arys berharap kreasi para bartender ini dapat menciptakan minuman teh yang tidak hanya lezat, tetapi juga mampu memikat hati generasi milenial dan Gen Z, sehingga teh tetap relevan di tengah gempuran tren minuman modern.
Arys juga menyinggung pentingnya festival ini sebagai wadah kolaborasi. “Tea Fest bukan hanya soal memamerkan produk, tetapi juga membangun ekosistem yang kuat antara petani, pelaku usaha, dan konsumen. Kami ingin generasi berikutnya melihat teh sebagai sesuatu yang keren, bukan kuno. Dengan Mixtealogy Competition, kami mengajak anak muda untuk bereksperimen, menciptakan sesuatu yang baru, dan membawa teh ke level yang lebih tinggi,” tambahnya.
Baca Juga:Wakil Ketua DPRD Jabar Soroti Dampak Penambahan Rombel Negeri terhadap Sekolah SwastaTutup SD Negeri Putraco, Pemkot Bandung Dinilai Gegabah!
Ia menekankan bahwa inovasi semacam ini adalah kunci untuk menjaga daya saing teh Indonesia di pasar global.
Azara Swita, peserta kompetisi Tea Fest 2025, berbagi pengalamannya sebagai barista. “Ini kompetisi teh pertama saya. Teh Jawara dan Teh Ndeso punya karakter kuat, cocok untuk moktel. Rasanya fleksibel, tidak membosankan, dan bisa dieksplor dengan sirup atau jus,” tuturnya.
“Kompetisi ini seru karena bisa bertemu teman baru, memperluas relasi, dan menantang kreativitas,” pungkasnya. (tur)
