Pemkot Bandung Berbenah Angkot, Pengamat Kebijakan Publik Soroti Ini

Pemkot Bandung Berbenah Angkot, Pengamat Kebijakan Publik Soroti Ini
Angkot melintas di jalan Tamansari, Kota Bandung, Senin (14/7). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tengah menyiapkan langkah besar dalam pembenahan transportasi umum. Ialah dengan wacana penghapusan trayek angkutan kota (angkot) lama yang sudah tidak relevan.

Menanggapi itu, Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Asep Sumaryana menyoroti sejumlah hal yang mesti diperhatikan pemkot, guna mendukung wacana pembenahan transportasi umum.

Terlebih menurutnya, perencanaan transportasi ibarat urat nadi, mesti disambungkan dengan baik. Kebijakan soal pengoptimalan angkutan umum berbasis terminalisasi saat ini kurang cocok.

Baca Juga:Bermodal Ilmu Otodidak dan Telegram Penjual Ketan Bakar di Padalarang Jadi Produsen Uang Palsu, Ratusan Lembar Siap Edar Disita PolisiTak jadi Berlaku 1 Agustus, Tarif Impor AS 32 Persen Tunggu Hasil Negosiasi?

“Sekarang angkot itu sendiri bersaing dengan angkutan online. Sehingga ketika angkot keluar terminal dan muatan kurang, maka dia ngetem lagi,” ungkap Asep saat dihubungi Jabar Ekspres, Senin (14/7).

Lantas dirinya menyambut baik upaya pemkot untuk berbenah perbaikan angkot. “Pemkot Bandung harus menata itu juga, peremajaan angkot yang tidak berkontribusi ke kemacetan yang lebih parah,” sambungnya.

Masalah kemacetan pun bukan sekadar tentang pembenahan transportasi umum. Melainkan kebijakan yang mampu menekan penyediaan kantung parkir di kawasan berbelanja, hingga tidak menyebabkan kemacetan akibat parkir sembarangan.

“Jadi kalau dilihat jalanan Kota Bandung itu terbatas. Pendek-pendek. Lalu jumlah kendaraan semakin banyak, sudah terbatas jalan, dan banyak aktivitas melibatkan pelaku usaha,” jelas Asep.

“Pemerintah berembuk dengan pengusaha, selain pengusaha angkutan transportasi. Supaya tidak makin terkesan Bandung macet dan semrawut, itu harus diperhatikan,” tandasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa sistem angkot yang ada saat ini, sebagian besar ditetapkan sejak tahun 1984, sudah tertinggal jauh dari kebutuhan mobilitas masyarakat modern.

“Trayek angkot itu dari tahun 1984 sudah tidak pernah diganti. Angkot, Anda lihat sendiri, nggak ada yang bagus sama sekali. Sudah ditinggalkan oleh masyarakat, dan masyarakat sekarang lebih senang menggunakan moda transportasi lain,” tegas Farhan, pekan lalu.

Baca Juga:Persiapan Hampir Final, 103 Percontohan Kopdes Merah Putih Siap Diresmikan!Tak Sekadar Pengenalan, MPLS di SLB Negeri A Citereup Dirancang untuk Belajar Menyenangkan

Namun, penghapusan trayek bukan dilakukan secara sepihak. Pemkot bersama para pemangku kepentingan, termasuk koperasi angkot, sedang membicarakan solusi pengganti yang konkret, salah satunya lewat pengembangan konsep angkot cerdas, moda transportasi baru berbasis kendaraan listrik dengan sistem “sharing ride”.

“Orang pertama yang saya ajak ngobrol adalah koperasi angkot. Bahkan beberapa dari mereka sudah mengusulkan jenis kendaraan listrik. Keren sih menurut saya. Ini idenya dari teman-teman angkot juga,” ujarnya.

0 Komentar