JABAR EKSPRES – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN I Babakan Talang, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berlangsung penuh semangat meski dilaksanakan di tengah kondisi memprihatinkan.
Sekolah yang terdampak bencana pergerakan tanah itu kini harus menjalankan aktivitasnya di bangunan darurat setelah gedung utama mereka ambruk total pada 28 Februari 2024 lalu.
Di hari pertama MPLS, suasana haru menyelimuti kedatangan para siswa dan orang tua. Sekolah darurat yang dibangun dari material sederhana seperti triplek hanya memiliki tiga ruangan, namun menjadi tumpuan harapan baru bagi dunia pendidikan di wilayah tersebut.
Baca Juga:Jalan Sangkuriang Barat Cimahi Ambles Usai Hujan Deras, Arus Lalu Lintas Dialihkan dan Usaha Warga LumpuhTrilogi Sekolah Rakyat: Muliakan Wong Cilik, Jangkau yang Belum Terjangkau, Tidak Mungkin Jadi Mungkin
Kepala SDN I Babakan Talang, Iis Dida Nurjanah, mengatakan bahwa jumlah siswa baru yang mendaftar tahun ini masih jauh dari harapan. Hingga hari pertama MPLS, baru sekitar 15 murid yang tercatat, turun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kami masih membuka penerimaan siswa baru selama MPLS, karena memang belum mencapai target. Tapi kami tetap semangat menjalani semua ini,” ujar Iis saat ditemui di lokasi sekolah darurat, Senin (14/7/2025).
Menurutnya, pasca ambruknya sekolah, kegiatan belajar sempat berpindah-pindah, termasuk ke MTs Al Ikhlas Babakan Talang dan SDN Langensari. Namun jarak tempuh yang jauh membuat sebagian orang tua memilih memindahkan anak-anak mereka ke sekolah lain.
Akibatnya, kata Iis, dari 35 siswa baru yang sempat terdaftar beberapa bulan setelah bencana, kini hanya tersisa sekitar 20 yang masih aktif.
Meski demikian, sekitar 100 siswa dari berbagai jenjang di SDN I Babakan Talang tetap hadir mengikuti MPLS dengan antusias. Didampingi 11 guru dan sejumlah orang tua, mereka mengikuti rangkaian kegiatan seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya, pengenalan lingkungan sekolah, hingga senam bersama di ruang darurat yang terbatas.
“Kami ingin tetap menunjukkan semangat dan rasa syukur. Justru ini menjadi momentum kebangkitan bagi kami semua,” imbuhnya.
Semangat itu juga dirasakan oleh orang tua murid. Aam Amanah (42), warga Kampung Pasirmalang, mengaku terharu melihat kondisi sekolah tempat anaknya menimba ilmu.
Baca Juga:Tahun Ajaran Baru Dimulai, Pemkot Bandung Bakal Terapkan Program 7 Kebiasaan Hebat Anak IndonesiaRespon Temuan Kementan, Disperindag KBB Bakal Periksa Peredaran Beras Premium
Ia mengenang bagaimana setelah bencana, kegiatan belajar sempat dilakukan di tenda.
