MIRIS ialah kata yang layak disematkan pada kondisi Tamansiswa Cabang Bandung hari ini. Alih-alih memulai Senin dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para peserta didik ajaran baru, di sana, tak ada satu orang pun. Ki Hajar Dewantara mungkin akan meringis, usai mengetahui sekolah yang ‘dilahirkan’ olehnya terancam tutup sementara.
Muhamad Nizar, Jabar Ekspres
Tersisa tinggal satu orang pelajar yang mendaftar sebagai calon peserta didik di SMK Tamansiswa. Akibat hanya satu siswa, Kepala Sekolah, Wawan Wulantara pun pilih menunda kegiatan MPLS. Lantaran kuota siswa belum terpenuhi, katanya, masa pendaftaran masih dibuka hingga beberapa waktu ke depan.
“Diperpanjang satu minggu, Kang. Kita lihat dulu untuk sementara waktu,” ungkap Wawan kepada Jabar Ekspres di ruang kerjanya, Senin (14/7).
Baca Juga:Rasakan Bedanya ‘World’s Best Economy Class Airline’ dengan Penawaran Spesial Edisi KemenanganOperasi Patuh Lodaya 2025 Dimulai, Ini Daftar Pelanggaran yang Jadi Sasaran Polisi
Kata ‘miris’ bukan saja kiasan yang pantas disematkan sebagai pembuka berita, ia juga muncul jadi kata yang berulang kali Wawan ucapkan. Dirinya menyesalkan kondisi yang menimpa Perguruan Tamansiswa Cabang Bandung.
Pantauan Jabar Ekspres, kondisi gedung tiga lantai itu sepi, puluhan ruang kelas kosong dan beberapa kertas bertuliskan ‘Penerimaan Peserta Didik Baru SMK Tamansiswa’ masih tertempel di dinding-dinding sekitar sekolah.
“Miris. Hanya satu orang yang terdaftar. Asalnya ada enam orang. Lima ditarik ke sekolah negeri. Mau tak mau kita jadi masa penerimaan diperpanjang. Mudah-mudahan ada yang tertarik,” cerita Wawan.
“SMA Tamansiswa baru yang mendaftar lima orang. Walaupun juga digabungkan, tetap sedikit. Masih kurang. Jadi tidak memungkinkan memulai dengan jumlah segitu,” getirnya.
Begitu juga dengan total pendaftar SMP Tamansiswa. Masih kurang dari kuota untuk keterisian satu kelas. Berkaca pada tahun kemarin, jumlah siswa masih terbilang lebih baik. Satu kelas masih bisa terpenuhi dan menjalankan kegiatan belajar mengajar.
Wawan tidak menampik bahwa Perguruan Tamansiswa Cabang Bandung terdampak dari kebijakan kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Perihal kursi panjang 50 siswa di tiap kelas sekolah negeri pada penerimaan murid baru tahun 2025.
“Apalagi posisi kita lokasinya di tengah kota. Negeri dan sekolah swasta banyak. Jadi terasa sekali dampaknya. Kita bingung harus berbuat apa. Berharap pemerintah memperhatikan juga swasta,” aku Wawan.
