Baru Terima Satu Orang Peserta Didik, SMK Tamansiswa Bandung Terancam Tutup Sementara

Seorang pengendara sepeda motor keluar dari area sekolah di SMK Tamansiswa, Jalan Taman Siswa, Kota Bandung, Senin (14/7). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Seorang pengendara sepeda motor keluar dari area sekolah di SMK Tamansiswa, Jalan Taman Siswa, Kota Bandung, Senin (14/7). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Nasib penerimaan peserta didik ajaran baru, menurutnya akan ditentukan satu minggu ke depan. Apabila tidak bertambah dan mampu memenuhi keterisian untuk minimal satu kelas, maka pihaknya akan menutup sementara operasional kelas satu pada tahun ini.

“Mau tak mau harus tutup sementara. Kita enggak ada siswa. Gulung tikar. Tahun ini berarti kita tidak ada siswa. Jadi hanya menyisakan kelas dua dan tiga. Menyisakan 30 siswa. Kami akan membereskan siswa sekarang,” jelas Wawan.

“Kalau sampai minggu depan hanya satu orang, maka kita kembalikan lagi ke orang tuanya. Saya berharap tentunya sekolah swasta juga diberi kompensasi pemerintah. Misalkan swasta diberdayakan juga,” harapnya.

Baca Juga:Rasakan Bedanya ‘World’s Best Economy Class Airline’ dengan Penawaran Spesial Edisi KemenanganOperasi Patuh Lodaya 2025 Dimulai, Ini Daftar Pelanggaran yang Jadi Sasaran Polisi

Taman Siswa pertama kali didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta, dengan nama awal National Onderwijs Instituut Taman Siswa.

Adapun perihal pendirian cabang di Bandung, berdasarkan penelitian dari skripsi “Perkembangan Taman Siswa Cabang Bandung Tahun 1926–1956”, disebutkan Taman Siswa mulai membuka cabang di Bandung sekitar tahun 1926.

Kekurangan siswa, kata Wawan, baru dirasakan SMK Tamansiswa pada tahun ini. Meski pascapandemi jumlah peserta didik terus menurun, tapi sampai hingga kini masih mampu bertahan dari waktu ke waktu.

“Miris, makanya. Ieu teh warisan (Ini warisan) Ki Hajar Dewantara. Logo-nya juga dipakai oleh Dinas Pendidikan. Tut Wuri Handayani. Nama ‘siswa’ juga, kan, dari mana? Dari mana? Jadi sangat miris,” sesalnya.

“Dahulu masih ada (pemerintah provinsi) yang memperjuangkan, sekarang, kan, tidak ada. Ya, dahulu ada seenggaknya bantuan cukup untuk operasional,” pungkasnya.

0 Komentar