JABAR EKSPRES – Ancaman kesehatan baru menggantung di udara Kabupaten Ciamis, meski belum menyentuh manusia.
Hantavirus, patogen berbahaya yang dibawa serta ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus, kini menjadi fokus kewaspadaan serius Dinas Kesehatan setempat.
Meskipun hingga saat ini belum ditemukan satupun kasus infeksi hantavirus pada warga, potensi penularan yang bersumber dari populasi tikus yang terinfeksi menuntut langkah antisipasi dini dan kesadaran tinggi dari seluruh lapisan masyarakat.
Baca Juga:Bakal Evaluasi Rutin, Taman Supratman Masih dalam Masa PercobaanRealisasi Dana TKD Tembus Rp400 Triliun, Menkeu: Dukung Pemerataan Layanan Publik di Daerah
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Ciamis, H. Edis Herdis, menegaskan status terkini. “Sampai hari ini, Kamis 10 Juli 2025, di wilayah Ciamis belum ada penemuan warga yang terjangkit hantavirus,” jelas Edis.
Namun, ketiadaan kasus manusia bukan berarti lengah. Kewaspadaan justru meningkat setelah pemeriksaan terhadap dua warga sebelumnya yang menunjukkan gejala mirip hantavirus, masing-masing di Kecamatan Cijeungjing dan Baregbeg.
Keduanya akhirnya didiagnosis menderita Leptospirosis, penyakit zoonosis lain yang juga ditularkan melalui tikus, namun disebabkan oleh bakteri, bukan virus.
Edis menerangkan perbedaan mendasar namun juga persamaan ancaman kedua penyakit tersebut.
“Hantavirus adalah infeksi virus, sementara Leptospirosis disebabkan oleh bakteri. Persamaannya, keduanya merupakan penyakit zoonosis yang utamanya ditularkan kepada manusia melalui hewan pengerat, khususnya tikus,” paparnya.
Temuan yang lebih mengkhawatirkan justru datang dari hasil pemeriksaan tikus di lingkungan warga yang terinfeksi Leptospirosis tersebut.
“Dari enam ekor tikus yang berhasil ditangkap dan diperiksa di salah satu lokasi, hasilnya menunjukkan satu tikus positif membawa hantavirus, dua tikus positif Leptospirosis, dan tiga lainnya negatif,” ungkap Edis.
Baca Juga:Angka Pengangguran di Cimahi Turun, Disnaker Klaim Efektivitas Aplikasi SidakeptriBelanja Rokok Warga Kota Bandung Lampaui Anggaran Bahan Pokok
Temuan tikus pembawa (carrier) hantavirus inilah yang menjadi sinyal merah bagi otoritas kesehatan. Hantavirus, sebagaimana dijelaskan Edis, termasuk penyakit zoonosis yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius.
“Infeksi ini seringkali menyerang paru-paru atau sistem pembuluh darah dan ginjal manusia. Secara umum, virus ini hidup dan disebarkan oleh tikus serta hewan pengerat lainnya,” tegasnya.
Penularannya ke manusia terjadi bukan melalui kontak antarmanusia melainkan melalui interaksi dengan kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi.
