Belanja Rokok Warga Kota Bandung Lampaui Anggaran Bahan Pokok

Warga berjalan di kawasan bebas asap rokok di area Lapangan Gasibu, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Warga berjalan di kawasan bebas asap rokok di area Lapangan Gasibu, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pengeluaran warga Kota Bandung untuk rokok dan tembakau tercatat lebih besar dibandingkan belanja mereka untuk padi-padian setiap bulannya, beras atau harga pokok sehari-hari.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan rata-rata masyarakat Kota Bandung menghabiskan Rp128.481 per kapita per bulan untuk rokok, sementara belanja padi-padian hanya Rp89.707.

Berdasarkan data tersebut, artinya, pengeluaran untuk rokok di ibu kota provinsi ini mencapai 1,43 kali lipat dibanding anggaran beras.

Bahkan Kota Bandung menempati peringkat kedua tertinggi di Jawa Barat.

Baca Juga:Perkuat Kawasan Komersial Terpadu, Kota Baru Parahyangan Hadirkan Hejo SquareJadi 8 Orang, Polisi Berhasil Amankan Tersangka Baru dalam Perusakan Rumah Singgah di Kabupaten Sukabumi

Juara dua dalam hal rata-rata pengeluaran rokok per kapita, hanya terpaut dari Kabupaten Subang yang menduduki posisi pertama dengan Rp138.777 per bulan.

Kota Bandung menjadi satu dari 22 kabupaten/kota di Jawa Barat yang pengeluaran rokoknya melampaui kebutuhan pangan pokok.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Anhar Hadian menilai, konsumsi rokok di wilayahnya memang sulit diturunkan. Kendati sejumlah upaya sudah dilakukan dinas kesehatan.

“Realitasnya ini bukan hanya fenomena dari Bandung aja. Tidak usah survey tinggi, habit merokok orang Indonesia itu kan jorok. Di rumah ada balita, rumah ngontrak, ventilasi terbatas. Itu yang jorok. Kenapa ngerokok? Jawaban macam-macam,” kata Anhar kepada Jabar Ekspres baru-baru ini.

“Yang pasti yang jadi masalah dampaknya. Kita tahu teori perokok pasif sama bahaya dengan perokok aktif. Jadi kalau ada anak-anak atau balita, jadi korban. Kami secara rutin melakukan pendataan,” imbuhnya.

Dia pun tidak menampik adanya keterkaitan antara tingginya perokok dengan munculnya kasus stunting. Hal ini disebabkan para perokok ‘jorok’ yang tidak memperhatikan sekitar mereka.

“Jadi kami minta kalau mau merokok di tempat yang ditentukan. Kawasan bebas rokok juga jadi tantangan, Perda sudah ada, aturan lengkap,” harapnya.

Baca Juga:Di Balik Untung Bisnis Tambang Bandung Barat, Ada Pekerja yang Diupah Hanya Rp30 RibuDPRD Desak Pemerintah Bangun Ekosistem Seni yang Berkelanjutan di Cimahi

“Tapi kesadaran masyarakat untuk berdisiplin merokok masih jauh dari harapan. Fase kami sekarang memonitor dan mempublish (kasus) itu,” pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan data di atas, hanya lima wilayah yang pengeluaran rokoknya tidak melebihi belanja padi-padian, yaitu Kota Banjar, Kabupaten Majalengka, Kota Bogor, Kota Sukabumi, dan Kota Tasikmalaya.

0 Komentar