JABAR EKSPRES – Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Jawa Barat turut bersuara terkait polemik Tes Terstandar yang dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar. Pihaknya menyarankan tes itu lebih baik tidak dilaksanakan karena rawan disalah gunakan.
Ketua Fortusis Jabar Dwi Subianto menuturkan, tes itu sebenarnya baik dari sisi sistem. Karena hasil tes bisa dilihat langsung hari itu juga atau selepas mengerjakan soal.
“Bagus tidak menunggu, seperti tes ASN (CAT.red), ” benernya, Senin (7/7).
Namun, lanjut Dwi, pelaksanaan tes itu memiliki beberapa catatan rawan. Tes itu pelaksana dan penentunya mutlak di panita. Dominasi kewenangan itu justru rawan dalam praktik kecurangan.
Baca Juga:Banjir Masih Jadi PR Besar Cimahi Selatan, Camat Soroti Permasalahan Kawasan PerbatasanPolisi Tindak Tegas Parkir Liar Getok Harga Dua Kali Lipat di Sekitar Saat Laga Persib Lawan Port FC
“Bisa jadi ladang transaksional, karena kewenangan mutlak di panitia. Daripada harus mengakali jarak domisili atau angka rapor, itu bisa dengan lebih mudah manipulasi hasil,” cetusnya.
Dwi melanjutkan, dalam kasus soal tes yang dinilai mengecoh atau tidak ada jawaban, itu juga bisa mengindikasi kecurangan. “Semestinya kalau memang tes akademik ya tidak perlu ada soal yang mengecoh.”
“Itu bisa jadi alat merekayasa anak yang gunakan pintu masuk uang. Kan mutlak, kewenangan ada di panitia. Itu yang di khawatirkan, lebih baik bubarin aja tesnya,” sambungnya.
Masih kata Dwi, adanya tes terstandar susulan itu juga jadi pertanyaan. Momen tes susulan itu juga makin rawan kecurangan.
Misalnya terkait kebocoran soal ataupun memang tes susulan yang telah dikondisikan untuk siswa khusus. “Kalau soal dan jawaban sama, ya sama juga bohong. Lebih baik gak usah tes,” bebernya. (son)
