“Untuk pembuatannya kita bekerja sama dengan luar negeri. Kita bukan tidak mampu, tapi tidak ditopang karena riset robotika perlu waktu (lama), dana, dan kecepatan akses. Di luar negeri, seperti Tiongkok dan Jepang, pemerintah hadir penuh. Tapi Kita masih jalan sendiri,” ungkapnya.
Maka dengan hadirnya dua robot canggih ini, Yohanes berharap ke depannya pemerintah dapat hadir khususnya dalam edukasi teknologi masa depan tersebut.
“Karena dalam pembuatan robot ini sekitar 25 peneliti kami libatkan. Jadi kalau publik siap, media siap, netizen siap, kami akan keluar (berinovasi) lagi,” pungkasnya.
(San).
