Sampah Plastik Bernilai Ekonomis Masih Dibuang ke Sungai, Kesadaran Warga Jadi Sorotan

Sampah Plastik Bernilai Ekonomis Masih Dibuang ke Sungai, Kesadaran Warga Jadi Sorotan
Petugas membersihkan sampah yang mencemari Sungai Citepus di Kota Bandung, Jumat (25/9/2026). Sungai Citepus kembali dipenuhi tumpukan sampah yang didominasi limbah rumah tangga dan sampah plastik. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Persoalan sampah di aliran sungai Kota Bandung dinilai tidak cukup diselesaikan hanya melalui kegiatan pembersihan. Kesadaran masyarakat untuk memilah dan tidak membuang sampah ke sungai dinilai menjadi bagian penting dalam menekan kembali munculnya tumpukan sampah.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Pelindung Hewan, Nia, di tengah kegiatan pembersihan Sungai Citepus, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung.

Menurut Nia, sebagian besar sampah yang ditemukan di Sungai Citepus merupakan sampah rumah tangga. Bahkan, tidak hanya sampah plastik berukuran kecil, petugas juga menemukan sejumlah barang berukuran besar seperti kasur, kursi, televisi hingga bagian kulkas.

Baca Juga:Implementasi Teknologi Tepat Guna ITB Atasi Persoalan Sampah di BandungPemkab Bandung Barat Didesak Alokasikan APBD 3 Persen Demi Atasi Krisis Sampah

Ia menyayangkan masih adanya warga yang membuang sampah plastik ke sungai, padahal sebagian sampah tersebut memiliki nilai ekonomis dan dapat dipilah untuk kemudian dijual.

“Sampah di sungai ini kebanyakan botol plastik, gelas plastik, yang sebenarnya memiliki nilai ekonomis. Sayang kalau langsung dibuang ke sungai, padahal kalau dipilah bisa dijual,” ujar Nia.

Ia menilai berbagai program pengelolaan sampah di tingkat kewilayahan sebenarnya telah tersedia. Mulai dari pemilahan sampah, rumah magot untuk mengolah sampah organik, hingga rencana pengembangan kompos pit di tingkat RW.

“Kalau dari kewilayahan, kami sudah memiliki program. Ada program pemilahan sampah, kemudian ada rumah magot untuk mengolah sampah organik,” katanya.

Di Kelurahan Pelindung Hewan, lanjut Nia, kompos pit juga disiapkan sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik. Setiap RW disebut memiliki tiga lubang kompos pit berukuran sekitar 1 x 1 meter yang dipasang menggunakan buis beton di lahan kosong.

Di sisi lain, Nia menilai penanganan sampah di sungai membutuhkan kerja sama lintas wilayah. Sebab, aliran Sungai Citepus tidak berhenti di satu kelurahan, tetapi terhubung dengan sejumlah wilayah lain.

Aliran dari bagian atas disebut berasal dari Sungai Cikakak, kemudian melewati wilayah Pelindung Hewan dan berlanjut menuju Kebon Lega hingga Cibaduyut.

Baca Juga:Bandung Kebanyakan Bicara Insinerator, Pemilahan Sampah dari Hulu Justru TerabaikanBandung Tambah Insinerator, Pemkot Siapkan Teknologi Pengolahan Sampah Skala Kelurahan

Selama ini, Kelurahan Pelindung Hewan bersama petugas gober dan DSDABM Kota Bandung rutin melakukan pembersihan. Dalam kegiatan terbaru, sekitar 10 petugas gober dan 15 hingga 20 personel DSDABM diterjunkan.

0 Komentar