Pemkot Cimahi Dorong ASN Belanja ke Pasar Tradisional, Disdagkoperin Nilai Ini Tak Sentuh Akar Masalah

Ilustrasi pedagang pasar tradisional. (Dok/Jabar Ekspres)
Ilustrasi pedagang pasar tradisional. (Dok/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Upaya Pemerintah Kota Cimahi menghidupkan kembali pasar tradisional melalui kampanye ‘ASN Belanja ke Pasar’ atau ASN Bercitra dinilai belum menyentuh akar persoalan.

Program yang digagas Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) itu disebut hanya menyasar efek promosi jangka pendek, bukan solusi struktural atas lesunya aktivitas perdagangan di pasar rakyat.

“Kalau sekadar ASN disuruh belanja mah dampaknya kecil, mikro, hanya sampai di situ saja. Tapi ASN ke pasar itu dampaknya adalah outcome,” kata Kepala Bidang Perdagangan Disdagkoperin Kota Cimahi, Indra Bagjana, saat dihubungi Jabar Ekspres via telepon, Kamis (3/7/2025).

Baca Juga:Proyek Normalisasi Drainase Tak Kunjung Dibenahi, Warga Rancaekek Kembali BerteriakAngkat Kisah Pengorbanan Prajurit dan Keluarga, Yonif 323/BP Kostrad Ajak Publik Saksikan Film Believe

Kampanye ini digelar sebulan sekali dan bertujuan menciptakan kesadaran publik akan eksistensi pasar tradisional, lewat unggahan di media sosial oleh ASN yang berbelanja.

Namun efektivitas strategi ini masih diragukan, apalagi di tengah dominasi pasar modern dan platform e-commerce yang kian menggerus daya saing pasar rakyat.

“Masyarakat sadar bahwa masih ada pasar tradisional itu. Tidak mati. ‘Oh iya ya, ada Pasar Atas.’ Minimal aware dulu. Di situ letak kesadarannya,” ujar Indra.

Sayangnya, aspirasi dari pedagang agar kegiatan ini dilakukan mingguan belum bisa dipenuhi. Bukan karena tidak ada niat, tapi karena keterbatasan waktu ASN dan tidak adanya kebijakan struktural yang mendukung keberlanjutan program.

Secara normatif, Indra menyebut kondisi perdagangan di Cimahi tidak bermasalah. Namun ia juga tidak menampik kenyataan di lapangan yang menunjukkan gejala penurunan aktivitas, terutama di pasar-pasar tradisional.

Ia menyoroti perubahan perilaku belanja masyarakat sebagai faktor utama.

“Makanya saya tanya, ini tuh perdagangan lesu-lesu apanya? Indikatornya apa? Oh, indikatornya ke pasar. Nah, itu seperti tadi ceritanya. Kalau secara umum, perdagangan tidak ada masalah sebetulnya,” katanya.

Indra juga menepis anggapan adanya permainan harga di pasar tradisional. Menurutnya, perbedaan harga antar pedagang adalah hal wajar yang dipicu oleh kualitas produk yang ditawarkan.

Baca Juga:Perluasan Kota Cimahi Kian Santer, Pemprov Jabar Belum Terima Usulan Resmi? Pasar Tradisional Kian Lesu, Pemkot Cimahi Akui Pola Belanja Konsumen Sudah Bergeser

“Ada pedagang yang cabainya mahal sendiri. Ketika ditanya, ternyata cabainya memang beda. ‘Pak, ini beda cabenya.’ Bawangnya juga begitu, banyak variannya,” ucapnya.

0 Komentar