Pasar Tradisional Kian Lesu, Pemkot Cimahi Akui Pola Belanja Konsumen Sudah Bergeser

Pasar Tradisional Kian Lesu, Pemkot Cimahi Akui Pola Belanja Konsumen Sudah Bergeser
Salah Satu Jongko Pedagang Ayam di Pasar Atas yang Terlihat Sepi Pembeli (Doc. Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pasar tradisional di Kota Cimahi kian terdesak oleh masifnya ekspansi pasar modern dan online. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi, Indra Bagjana, mengakui adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat, terutama di kalangan rumah tangga muda.

“Kan sekarang juga ada persaingan dengan pasar modern, pasar online juga,” kata Indra saat dihubungi Jabar Ekspres via telepon, Kamis (3/7/2025).

Indra melanjutkan, katanya para pedagang mengeluhkan penurunan omset mereka itu akibat adanya pasar modern dan online itu. Menurutnya, fenomena ini bukan hal baru. Persaingan antara pasar tradisional, modern, dan digital sudah terjadi cukup lama.

Baca Juga:Proyek Gagal SMKN 1 Cijeungjing Tumbang di Tangan Pemenang Lelang TerendahTak Tahu Ada Penutupan, Pengunjung Kecewa Kebun Binatang Bandung Libur Hari Ini

“Yang namanya pasar itu kan intinya tempat pertemuan penjual dan pembeli. Dan itu sekarang ada modifikasinya,” ujar Indra.

Ia menyebutkan ada dua faktor utama yang memengaruhi kondisi pasar tradisional saat ini, selera konsumen dan harga. Pasar modern, menurutnya, lebih terorganisir dalam hal harga dan pelayanan. Misalnya saja harga beras premium yang dibanderol dengan harga pasti di toko ritel.

“Harga di pasar modern itu bersaing ketat. Contoh misalnya HET. Beras premium HET Rp14.900 per kilo, 5 kilo Rp74.500. Itu dipatuhi di pasar modern. Yang agak sulit di pasar tradisional itu, kadang-kadang harga itu tidak ada bandrolnya,” bebernya.

Indra menilai meski konsumen bergeser, bukan berarti pasar tradisional kehilangan seluruh basis pelanggannya. Ia melihat masing-masing kanal distribusi memiliki ceruk pasar yang berbeda.

“Tidak serta-merta pasar modern nanti mengambil konsumennya pasar tradisional. Saya melihatnya begitu. Tidak begitu. Hanya memang, ini yang kalau pergeseran pola konsumen memang betul terjadi. Misalnya rumah tangga-rumah tangga muda,” jelasnya.

Konsumen usia 20–30 tahun disebut lebih suka berbelanja secara online atau di toko modern karena alasan praktis dan efisiensi waktu. Namun, Indra menekankan, hal itu bukan berarti pasar tradisional sepi total.

“Pasar tradisional itu dianggap menurun. Bukan sepi, ya, menurun. Menurun lah, bukan sepi. Kalau disebut sepi mah tidak lah. Apalagi datangnya subuh sampai pagi-pagi. Maksimal jam 8 itu masih hidup,” tegasnya.

0 Komentar