AS Setujui Penjualan Sistem Panduan Bom ke Israel, Iran Tuntut PBB Akui Agresi

0 Komentar

JABAR EKSPRES – Amerika Serikat secara resmi menyetujui penjualan sistem panduan senilai 510 juta dolar AS (sekitar Rp8,24 triliun) kepada Israel untuk memperkuat persenjataan bunker dan bom reguler. Informasi ini diumumkan oleh Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan AS (DSCA) pada Senin, 30 Juni.

Dalam pernyataan resminya, Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui kemungkinan penjualan militer kepada Israel, yang mencakup peralatan panduan amunisi dan dukungan terkait lainnya.

“Departemen Luar Negeri telah membuat keputusan yang menyetujui kemungkinan Penjualan Militer Asing kepada Pemerintah Israel berupa Peralatan Panduan Amunisi dan Dukungan Amunisi serta peralatan terkait dengan perkiraan biaya 510 juta dolar AS,” berdasarkan pernyataan resmi dari lembaga tersebut.

Baca Juga:LeBron James Kembali Perkuat Lakers di Musim ke-23, Cetak Sejarah Baru di NBAUpaya Damai Nuklir Iran: Qatar dan Negara Lain Fasilitasi Perundingan Multilateral

Israel disebut telah mengajukan permintaan untuk memperoleh 3.845 unit sistem panduan untuk bom BLU-109 berbobot 2.000 pon dan 3.280 unit panduan untuk bom MK 82 seberat 500 pon.

Di sisi lain, ketegangan memuncak di Timur Tengah menyusul operasi militer Israel terhadap Iran yang terjadi pada malam 13 Juni.

Israel menuduh Iran menjalankan program nuklir militer rahasia dan melancarkan serangan udara yang menyasar fasilitas nuklir, pangkalan udara, serta sejumlah tokoh penting seperti jenderal dan fisikawan nuklir.

Iran membantah tuduhan tersebut dan membalas dengan melancarkan serangan militer. Selama 12 hari, terjadi serangan saling balas antara kedua negara, di mana Amerika Serikat turut terlibat dalam satu kali serangan ke fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni malam.

Menanggapi eskalasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengajukan surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.

Dalam suratnya, ia mendesak agar Dewan Keamanan PBB mengakui Israel dan AS sebagai pihak yang memulai agresi terhadap Iran. Ia juga menuntut pertanggungjawaban atas kerusakan yang ditimbulkan, termasuk pemberian kompensasi.

0 Komentar