JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Cimahi tengah serius menggarap pelestarian bangunan-bangunan tua bersejarah sebagai bagian dari upaya menyelamatkan warisan arsitektur kolonial dan memperkuat identitas kota.
Tak hanya disimpan sebagai saksi bisu masa lalu, bangunan cagar budaya ini dirancang untuk menjadi ruang hidup baru yang edukatif sekaligus atraktif bagi masyarakat dan wisatawan.
“Ini merupakan upaya Pemkot untuk melestarikan dan mempertahankan keberadaan bangunan-bangunan tua atau kolonial yang bernilai sejarah. Harapannya, bisa menjadi sumber pengetahuan dan ke depan jadi destinasi wisata,” ujar Tim Ahli Cagar Budaya Kota Cimahi, Kang Mac, saat ditemui di Jalan Kartini, Baros, Cimahi Tengah, Rabu (25/5/2026).
Baca Juga:Bupati Rudy Susmanto Bangga Kabupaten Bogor Jadi Lokasi Latihan Bersama Tiga Matra TNIPeringati HKG ke-53, Bupati Bogor Ajak TP-PKK Perkuat Kolaborasi Bangun Daerah Berbasis Ketahanan Keluarga
Kang Mac menekankan, langkah ke depan tidak berhenti pada pelestarian saja, tetapi juga pemanfaatan yang adaptif. Rumah budaya atau rumah tua bisa difungsikan sebagai ruang publik baru, seperti kafe atau tempat komunitas, asalkan bentuk aslinya tidak diubah.
“Bisa dimanfaatkan jadi tempat lain, asal tidak mengubah bentuk asli. Itu yang kita pertahankan. Beberapa memang ada yang berubah, tapi namanya masih tetap dipertahankan,” jelasnya.
Salah satu contoh nyata adalah bangunan di SMPN 1 Cimahi. Dari lima lokal kelas warisan, hanya dua ruang yang masih mempertahankan keaslian. Tiga lainnya sudah mengalami modifikasi.
“Nilai strategisnya adalah penyelamatan. Jangan sampai dua yang tersisa itu juga hilang. Makanya kita dorong agar SMP 1 bisa ditetapkan sebagai cakap budaya,” ungkapnya.
Langkah ini dinilai penting agar bangunan dengan nilai historis tetap hidup di tengah tuntutan pembangunan. Tanpa intervensi pelestarian, bangunan seperti di SMP 1 terancam lenyap karena kebutuhan ruang belajar yang terus meningkat.
Bangunan yang kini masuk dalam proses kajian cagar budaya merupakan peninggalan zaman Garnisun Cimahi tahun 1896.
Tepatnya di kawasan yang dulu bernama Juliana Pakwe kini Jalan Taman Kartini. Di lokasi tersebut, berdiri enam rumah dinas yang dibangun sekitar tahun 1904, khusus untuk perwira militer.
Baca Juga:Bupati Bogor Siap Jadikan Badrul Khamal sebagai Juru Kampanye Pelestarian Lingkungan68 WNI di Iran Masih Tertahan di KBRI, Tunggu Jadwal Pemulangan
“Kalau dari sisi arsitektur, ini satu-satunya di Kota Cimahi. Gaya arsitekturnya perpaduan barak, romantik, dan indis empire. Romantik banget gaya arsitekturnya, dan ini nggak ada di tempat lain. Cuma di sini,” papar Kang Mac.
