“Kami sudah sering imbau masyarakat beli langsung di pangkalan. Tapi lokasinya kadang jauh dan tidak mudah dijangkau,” lanjutnya.
Sementara itu, kata Parlan, pemerintah pusat yang telah memperketat peraturan distribusi dengan sistem digitalisasi dan pencatatan KTP di pangkalan untuk memastikan subsidi LPG tepat sasaran, implementasinya di lapangan masih belum merata.
“Banyak warga belum terbiasa dengan sistem baru, sementara kuota tidak naik meski permintaan meningkat,” bebernya.
Baca Juga:Legislator Jabar Minta Kementerian LH Ikut Andil Tuntaskan TPA Open Dumping, Bukan Sekedar Beri Peringatan!Peduli Keselamatan Pengendara, Polres Banjar Turun Tangan Perbaiki Jalan Rusak
Dirinya menyinggung soal pengawasan yang dilakukan baik oleh Pertamina maupun Pemkot Bandung tidak dijalankan secara menyeluruh. Pemerintah hanya fokus pada penindakan agen-agen yang menjual diluar standar ketetapan HET.
“Pengawasannya masih terbatas. Kami sebagai agen dan pangkalan resmi wajib menjual sesuai HET, yang sekarang Rp19.000 per tabung di pangkalan. Tapi di pengecer, terutama di warung-warung kecil, harga bisa melonjak hingga Rp23.000 atau lebih, karena mereka tidak diawasi ketat,” ucapnya.
Warga Cisaranten Kulon, Dede (46), turut menanggapi soal naiknya HET gas elpiji 3kg di Kota Bandung. Menurutnya, tak masalah apabila harga barang subsidi tersebut naik asalkan pasokannya tetap terjaga.
Selain itu, dirinya meminta kepastian pada pemerintah, ditengah kenaikan HET ini tak ada lagi gas LPG 3Kg yang ditemukan dalam kondisi dioplos.
“Kalau masih mampu mah aman aja. Asal jangan susah dicarinya. Apalagi langka, kan naik nya pasti lebih mahal lagi kan. Terus juga jangan tiba-tiba jol ada berita LPG oplosan, masa udah naik, mahal, masih juga kecolongan,” katanya kepada Jabar Ekspres.
Berbeda dengan Dede, Maya (29) justru khawatir kenaikan HET ditingkat pangkalan membuat harga gas lebih melambung ditingkat pengecer atau warung-warung. Terlebih, kondisi ekonominya belum pulih pasca suaminya berhenti di tengah pekerjaan yang biasa dikerjakan.
“Jujur berat bagi masyarakat kecil kaya saya mah. Yang dulu di pangkalan Rp16.000 aja di warung dijual Rp21.000, apalagi sekarang. Kalau kata pak wali, masyarakat mah pasti bisa membeli asal barangnya ada, masyarakat yang mana,” ungkapnya.
Baca Juga:Judi Kasino Berkedok Lapang Futsal di Bandung Ternyata Baru Beroperasi Tiga Hari?Tempat Judi Kasino di Bandung Terungkap, Ini Kesaksian Warga!
“Sekarang mereun bisa Rp24.000 – Rp25.000 di warung-warung gas teh. Apalagi banyak kebutuhan lain yang harus dipikirkan. Di tengah suami yang kerjanya belum tetap,” tambahnya.
