Mobil Listrik Murah Belum Tentu Aman: Pelajaran dari Penutupan Dealer Neta

Mobil Listrik Murah Belum Tentu Aman
Mobil Listrik Murah Belum Tentu Aman. Foto: Wuling Indonesia
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kita akan membahas sebuah kabar yang cukup mengejutkan dari dunia mobil listrik. Salah satu merek kendaraan listrik asal Tiongkok, yaitu Neta, resmi menutup salah satu dealernya secara permanen di Jakarta, tepatnya di kawasan Kelapa Gading.

Menurut laporan dari Bisnis.com, dealer Neta di Kelapa Gading ini baru diresmikan pada November 2023, namun telah ditutup secara permanen pada April 2025. Artinya, usia operasional dealer tersebut bahkan belum genap dua tahun. Padahal, dealer ini tergolong lengkap karena mengusung konsep 3S, yaitu menyediakan layanan penjualan (sales), suku cadang (spare parts), dan servis (service)—bukan sekadar showroom.

Penutupan ini tentu sangat dikamingkan, mengingat fasilitasnya sudah cukup memadai. Menurut pakar otomotif dari ITB, yang bernama Yanes Martinus, Neta memang merupakan merek yang masih tergolong baru. Merek ini pertama kali muncul di Tiongkok pada tahun 2018 di bawah naungan perusahaan induk Hozon Auto.

Baca Juga:Membongkar Rahasia Google VEO 3 dari AI Generatif hingga Mengubah Teks Menjadi Sinema10 HP RAM 8 GB per 256 GB Terbaik Harga 1 Jutaan di 2025

Namun, saat ini Neta dikabarkan sedang mengalami kesulitan dalam persaingan, terutama di pasar dalam negeri mereka, karena harus berhadapan dengan raksasa industri otomotif seperti BYD, Wuling, dan Chery. Data menunjukkan bahwa penjualan mereka di Tiongkok mengalami penurunan drastis. Pada Januari 2025, penjualan mereka tercatat turun sekitar 98%, dan pada Februari hanya terjual sekitar 400 unit. Bahkan, mereka dikabarkan memiliki utang hingga 10 miliar yuan atau sekitar 1,4 miliar dolar AS.

Dari sudut pandang kami sebagai pengguna mobil listrik, berita ini sejujurnya tidak terlalu mengejutkan, tetapi tetap perlu menjadi perhatian kita sebagai konsumen. Mengingat industri mobil listrik masih tergolong baru, terutama di Indonesia, kita harus lebih waspada terhadap merek-merek yang belum memiliki fondasi kuat—baik dari sisi keuangan, layanan purnajual, maupun jaringan servis.

Bayangkan saja jika kita membeli mobil listrik dari merek yang belum stabil, lalu dalam 2–4 tahun ke depan dealernya tutup. Ketika kita membutuhkan servis, mengajukan keluhan, atau klaim garansi, tentu akan menjadi sangat merepotkan. Meski pihak Neta menyatakan bahwa garansi tetap berlaku dan layanan masih dapat diakses melalui dealer lain, hal ini tetap mencerminkan kondisi internal perusahaan yang kurang sehat.

0 Komentar