Masjid Affiliate Al-Kahfi Bunut dari Tempat Salat Karyawan, Kini Jadi Sentra Pelatihan Bisnis Digital Beromzet Miliaran

Sebuah masjid di Kampung Bunut, Desa Margahurip, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung yang dikenal dengan nama Masjid Affiliate Al-Kahfi Bunut kini tak hanya menjadi tempat ibadah, namun juga pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Foto Agi
Sebuah masjid di Kampung Bunut, Desa Margahurip, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung yang dikenal dengan nama Masjid Affiliate Al-Kahfi Bunut kini tak hanya menjadi tempat ibadah, namun juga pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Foto Agi
0 Komentar

JABAR EKSPRES  – Sebuah masjid di Kampung Bunut, Desa Margahurip, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, tengah menjadi perhatian karena transformasinya yang tak biasa.

Dikenal sebagai Masjid Affiliate Al-Kahfi Bunut, tempat ibadah ini kini juga menjadi pusat pelatihan ekonomi digital dan pemberdayaan masyarakat, terutama melalui platform TikTok dan marketplace.

Masjid ini digagas oleh Aditya Pratama Ghifary, seorang pengusaha muda dan konten kreator yang juga Founder dan sudah mulai merintis pembangunan masjid pada 2019.

Baca Juga:Kemenkeu Bebaskan Pajak dan Bea Masuk 1.800 Barang Jamaah HajiPHK Besar-Besaran, Pemerintah Janjikan Ribuan Lapangan Kerja

Ide awalnya muncul dari hasil keuntungan bisnis bimbingan belajar online yang ia jalankan sejak 2018 bersama rekannya.

“Waktu itu di tahun pertama bisnis kami alhamdulillah sudah untung, kami langsung kepikiran ingin membangun masjid,” ujar Aditya saat ditemui Jumat (13/6/2025).

Namun, selama lima tahun pertama, fungsi masjid masih terbatas. Menurut Aditya, masjid itu lebih banyak digunakan untuk salat Zuhur dan Asar oleh para karyawan kantor yang berada di sekitar lokasi.

“Kalau Magrib, Isya, Subuh apalagi Sabtu dan Minggu, itu sepi banget. Karena memang pengelolaannya belum serius. Pengurusnya juga sambil kerja di kantor saya, jadi cuma pakai waktu luang,” jelasnya.

Jalan yang Membuka Transformasi

Perubahan besar dimulai setelah peristiwa tragis yang menimpa salah satu tetangganya. Seorang warga di sekitar kampung melakukan bunuh diri karena kesulitan ekonomi.

“Kejadian itu membuat saya sangat terpukul. Saya mulai berpikir, kenapa orang bisa sampai segitunya? Saya sadar, masalah utama masyarakat itu keimanan dan ekonomi. Jadi harus ada solusi dari dua sisi itu,” kata Aditya.

Ia pun mulai berkeliling dan belajar dari masjid-masjid besar yang dianggap sukses memberdayakan jamaahnya, seperti Masjid Jogokariyan di Yogyakarta, Masjid Salman ITB, serta beberapa masjid di Malaysia, Singapura, hingga Korea Selatan.

Baca Juga:Razia Sejumlah Tempat Hiburan Malam di Bandung, 4 Orang Diduga Kedapatan Konsumsi Narkoba!Tolak Euforia Berlebihan, SMPN 1 Cimahi Pilih Perpisahan di Lingkungan Sekolah

Dari kunjungan itu, Aditya menyimpulkan bahwa kunci utama dalam memakmurkan masjid adalah pengelolaan yang full time dan profesional.

“Saya lihat semua masjid yang ramai itu ada pengurus yang standby 24 jam. Nah, kami waktu itu nggak punya itu. Baru di tahun 2024 mulai kita ubah,” tuturnya.

Lahir Program Pelatihan Affiliate

0 Komentar