Lalu, bagaimana dengan kualitasnya? Apakah harga murah berarti kualitasnya rendah? Sayangnya, jawabannya adalah ya. Namun, hal ini bukan tanpa alasan. Jika kita menilik dari sudut pandang strategi bisnis, Daihatsu memang sengaja menyederhanakan banyak aspek produknya untuk menekan harga jual.
Contoh nyata dari strategi ini dapat dilihat pada Daihatsu Ayla dan Sigra. Bagi mereka yang terbiasa menggunakan mobil dengan harga di atas Rp300 juta, kedua mobil ini mungkin terasa sangat minim dalam hal kenyamanan dan fitur.
Interiornya sederhana, material plastik keras digunakan di hampir seluruh bagian, sistem hiburan sangat terbatas, jok terasa tipis, dan pendingin udara (AC) kurang optimal. Pada varian bawah, bahkan fitur keselamatan seperti ABS atau airbag ganda tidak disertakan.
Baca Juga:Kenali Uang Kuno yang Bisa Dijual ke Kolektor, Tidak Semua BisaKejatuhan BlackBerry, Dari Raja Smartphone Jadi Kenangan
Jika kita kembali ke era awal 2000-an, Daihatsu Xenia adalah contoh lainnya. Bagi mereka yang terbiasa mengutamakan kenyamanan dan fitur, Xenia dinilai sangat minim. Kabin nyaris tanpa peredam suara, jumlah speaker hanya dua, rasa berkendara kurang menyenangkan, dan performa mesin pun jauh dari kata memuaskan.
Namun, di mata banyak orang yang lebih mementingkan aspek fungsional, Xenia sudah dianggap cukup. Meskipun suara mesin terdengar nyaring dan kenyamanan berkendara rendah, mobil ini irit bahan bakar, berukuran besar, dan mampu membawa banyak penumpang atau barang. Inilah nilai yang dicari oleh sebagian besar konsumen di segmen tersebut.
Jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, Daihatsu sebenarnya tidak sepenuhnya “buruk”. Memang benar bahwa dalam beberapa aspek, mobil-mobil Daihatsu terlihat minim, namun jika kita mengganti perspektif dan menilai dari segi kegunaan, efisiensi, dan daya angkut, mobil-mobil ini memenuhi kebutuhan pasar yang dituju.
Situasi menjadi lebih menarik ketika kita membandingkan Daihatsu dengan “kembarannya” dari Toyota. Misalnya pada model Toyota Rush dan Daihatsu Terios. Banyak yang menilai bahwa Toyota Rush sendiri sudah kurang nyaman dari sisi performa, stabilitas, dan kenyamanan—ibarat gerobak berjalan. Jika versi Toyota saja sudah demikian, versi dari Daihatsu sering kali dinilai lebih parah. Terios dianggap memiliki performa mesin yang lebih lemah, kestabilan rendah, dan kenyamanan yang jauh di bawah ekspektasi. Bahkan, sebagian orang merasa lega hanya karena tidak mabuk saat menumpang Terios.
