Miris! Panti Asuhan Pemprov Jabar Terabaikan, Tapi Anak di Barak Militer Justru Diistimewakan?

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memeluk anak-anak yang mendapatkan pendidikan militer namun tidak hadir orang tuanya usai upacara Hari Kebangkitan Nasional di halalan Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (20/5). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memeluk anak-anak yang mendapatkan pendidikan militer namun tidak hadir orang tuanya usai upacara Hari Kebangkitan Nasional di halalan Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (20/5). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Anak-anak tersebut ada yang yatim, ada yang korban kekerasan seksual, ada yang korban KDRT, bahkan ada yang sejak kecil tidak tahu siapa orang tuanya. Mereka tidak bandel. Mereka tidak berulah. Tapi mereka hidup dalam senyap dan luka.

“Kemudian Kang, hari ini, anak-anak barak yang baru akang sentuh justru diberi segalanya, dijemput, makan teratur, pakaian seragam, liputan media, diajak ngobrol langsung dengan Kang Haji, hingga kelulusan megah di Gedung Sate, melebihi wisuda SMA yang dilarang oleh Kang Haji,” terangnya.

Maulana menjelaskan bahwa perhatian yang diberikan begitu besar, hingga mereka dikunjungi setiap hari, seolah-olah menjadi anak emas. Padahal, tidak semua yang masuk ke Barak Militer berasal dari keluarga kurang mampu

Baca Juga:Jelang Pawai Persib Juara, Ribuan Petugas Gabungan DikerahkanRedam Lonjakan Harga Pangan jelang Iduladha di Kota Bandung, Ini Upaya Pemerintah

“Sementara nasib anak-anak panti di bawah naungan resmi Kang Haji, kedatangan mereka ada yang ditemukan karena dibuang, atau diserahkan karena keterpaksaan ekonomi, yang bahkan bajunya masih sobek,” paparnya.

“Bahkan untuk sekedar jajan pun tidak ada, tempat tidurnya jauh dari kata layak, bangunannya sebagian memprihatinkan, dan mimpinya semakin kecil karena merasa tidak dianggap,” lanjut Maulana.

Legislator muda Fraksi PKB itu mengungkapkan, pihaknya mencatat bahwa anggaran Program Barak Militer Pendidikan Karakter Pancawaluya, angkanya mencapai Rp3,2 miliar untuk 275 anak selama 30 hari.

“Itu berarti satu anak dibiayai Rp11,6 juta per bulan. Sementara anak-anak panti hanya mendapat sekitar Rp1,3 juta per bulan, delapan kali lipat lebih kecil,” ungkap Maulana.

“Padahal mereka bukan anak nakal, mereka anak korban. Merekalah Kang, sebenarnya anak yang betul-betul harus diberikan perhatian lebih!,” tambahnya.

Keresahannya terhadap langkah KDM. Dia mempertanyakan, apakah cinta seorang pemimpin harus dibagi berdasarkan seberapa menarik cerita anak itu di media.

“Apakah yang sunyi dan tak sensasional tidak layak dicintai? Kang, ini tentang keberpihakan. Tentang siapa yang kita peluk dan siapa yang kita biarkan menggigil di pojok ruang panti,” tuturnya.

Baca Juga:Kinerja Positif, BPR Indramayu Jabar Genjot Dana Pihak KetigaTinggal Tunggu Peresmian, BPBD Kota Bandung Siap Beroperasi!

“Kang Haji tahu rasanya dicibir karena miskin, tahu rasanya harus bertahan dari kerasnya hidup. Maka saya yakin, jauh di dalam hati Kang Haji, masih ada ruang untuk mendengar suara anak-anak yang diam, anak-anak yang tidak meminta difasilitasi, tapi sangat layak untuk dipeluk,” imbuhnya.

0 Komentar