JABAR EKSPRES – Puluhan aktivis yang tergabung dalam Perkumpulan Aktivis 98 kembali turun ke jalan memperingati 27 tahun Reformasi, Rabu (21/5) siang. Mereka menyuarakan tuntutan agar cita-cita Reformasi 1998 dijalankan secara utuh.
Ketua Presidium Perkumpulan Aktivis 98, Muhammad Suryawijaya menjelaskan, terutama dalam hal penegakan hukum, reformasi kabinet, dan penguatan demokrasi.
“Kami tidak turun untuk menumbangkan seseorang, tetapi untuk merobohkan sistem penindasan yang membuat rakyat tak punya suara,” kata Surwawijaya dalam pernyataan sikap di depan Gedung Sate, Bandung.
Baca Juga:Dua Sapi Peternak Lokal Bandung Barat Lolos Verifikasi Jadi Hewan Kurban Presiden PrabowoKejati Jabar Tunjuk 6 Jaksa Tangani Kasus Ridwan Kamil vs Lisa Mariana
Menurutnya, Reformasi yang diperjuangkan dengan darah dan air mata kini kian menjauh dari cita-cita awal. Hukum tak lagi menjadi panglima, mahasiswa dibungkam, dan rakyat semakin kehilangan ruang menyuarakan pendapat.
“Kami melihat bagaimana elite politik hari ini bermain dalam skenario mempertahankan kekuasaan,” tegasnya.
Aktivis 98 menyampaikan lima tuntutan utama: pertama, menjalankan reformasi hukum secara menyeluruh dan tanpa kompromi, termasuk menegakkan supremasi hukum dan membersihkan institusi penegak hukum dari praktik KKN.
Kedua, melakukan reformasi kabinet agar lebih berpihak pada rakyat dengan mengganti figur oportunis yang gagal menunjukkan kapasitas demokratis.
Ketiga, memperkuat demokrasi dan kebebasan sipil dengan menghentikan pelemahan terhadap suara kritis rakyat dan mahasiswa. Keempat, mengajak generasi muda menjadi garda depan perubahan.
Para massa aksi unjuk rasa itupun menyerukan tigal hal penting, diantaranya reformasi hukum jalan terus, reformasi kabinet sekarang juga, dan selamatkan demokrasi, selamatkan ekonomi.
Kelima, menangani krisis ekonomi dengan kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil dan kelompok rentan. “Reformasi adalah warisan yang harus dijaga, bukan barang dagangan politik,” pungkasnya.
