JABAR EKSPRES – Berbeda dengan Hari Raya Idul Fitri atau perayaan lainnya dalam kalender Masehi, penetapan Idul Adha 2025 mengikuti penanggalan Hijriah.
Kapan Idul Adha 2025? Ini Tanggalnya Versi Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU
1. Versi Pemerintah
Mengacu pada Kalender Hijriah tahun 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, 1 Dzulhijjah 1446 H diperkirakan jatuh pada tanggal Rabu, 28 Mei 2025.
Oleh karena itu, Hari Raya Idul Adha atau 10 Dzulhijjah 1446 H kemungkinan besar akan dirayakan pada Jumat, 6 Juni 2025.
Baca Juga:Inilah Sholawat Penarik Rezeki Paling Ampuh, Baca Setiap Hari Pagi dan PetangCara Tukar atau Jual Uang Kuno Rp1.000 Kelapa Sawit di BI dan Kolektor, Bisa Untung Berkali Lipat
Jadwal tersebut juga selaras dengan isi Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri yang menetapkan hari-hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2025. SKB tersebut terdiri atas:
- SKB Nomor 1017 Tahun 2024
- SKB Nomor 2 Tahun 2024
- SKB Nomor 2 Tahun 2024
Namun, perlu dicatat bahwa tanggal tersebut masih bersifat perkiraan dan belum ditetapkan secara final.
Penetapan resmi akan dilakukan melalui sidang isbat oleh pemerintah, yang mengumumkan tanggal pasti setelah dilakukan pemantauan hilal.
2. Versi Muhammadiyah
Berbeda dari pemerintah, organisasi Islam Muhammadiyah telah menetapkan lebih awal tanggal pasti Hari Raya Idul Adha 2025.
Hal ini dituangkan dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025, yang mengatur hasil hisab (perhitungan) untuk Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah 1446 H.
Menurut hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan metode hisab hakiki wujudul hilal, maka 10 Zulhijah 1446 H = Jumat Wage, 6 Juni 2025 Masehi
Dengan demikian, Muhammadiyah telah menetapkan Idul Adha 2025 jatuh pada Jumat, 6 Juni 2025.
3. Versi Nahdlatul Ulama (NU)
Baca Juga:Inilah Deretan Batu Akik Termahal dan Paling Dicari Tahun 2025Cara Jual Uang Kuno ke Bank atau Kolektor Agar Untung hingga Puluhan Juta
Berbeda dari Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab, Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan pendekatan rukyatul hilal, yaitu dengan mengamati kemunculan bulan sabit secara langsung menjelang masuknya bulan baru dalam kalender Hijriah.
