Sambangi Combiphar, BPOM Dorong Industri Farmasi Riset Dalam Negeri Demi Kemajuan Kesehatan Nasional

Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar saat menyerahkan Sertifikat Nomor Izin Edar (NIE) untuk Veoza ke Presiden Direktur Combiphar Group, Michael Wanandi di Padalarang, Bandung Barat. Rabu (16/4). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar saat menyerahkan Sertifikat Nomor Izin Edar (NIE) untuk Veoza ke Presiden Direktur Combiphar Group, Michael Wanandi di Padalarang, Bandung Barat. Rabu (16/4). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menyebut 94 persen bahan baku obat di dalam negeri masih impor.

Hal ini dikatakan Taruna Ikrar saat mengunjungi Combiphar Group yang berlokasi di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Taruna Ikrar pun mendorong produsen obat di Indonesia untuk mengembangkan riset guna menemukan bahan baku dari dalam negeri sebagai bentuk kemandirian.

Baca Juga:Hindari Tabrakan, Truk Bermuatan Kain Terguling di CiamisTambah Saldo dan Perbanyak Transaksi, Rejeki Wondr BNI Siap Bagikan Chery J6 hingga Mercedes Benz

“Kami Badan POM tengah fokus pada industri farmasi, karena itu kita mendorong agar industri farmasi mengembangkan riset guna menemukan bahan baku dari dalam negeri sebagai bentuk kemandirian,” katanya.

Ia mengapresiasi Combiphar yang saat ini terus mengembangkan produk-produknya, terbaru produk seperti Eye Mo yang tidak hanya dikenal luas di Indonesia, tetapi juga telah mendapatkan pengakuan dan kepercayaan di pasar internasional.

Ia juga menegaskan bahwa Combiphar merupakan aset nasional yang harus dijaga dan didukung keberlanjutannya.

“Badan POM berkomitmen untuk tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga mitra strategis bagi pelaku industri. Kami mendorong efisiensi regulasi melalui program percepatan evaluasi,

0 Komentar