JABAR EKSPRES – Ketidakpuasan warga perumahan di sekitar Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Kamisama, Purwaharja, Kota Banjar, memuncak setelah pelayanan pengangkutan sampah oleh pihak swasta dinilai tidak memadai. Ahmad Farid, perwakilan warga, secara tegas mendesak perusahaan pengelola TPS Kamisama untuk menyerahkan sementara layanan pengolahan sampah kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjar selama dua bulan ke depan. Tuntutan ini disampaikan menyusul penumpukan sampah di rumah-rumah warga yang tidak diangkut secara rutin oleh petugas Kamisama selama hampir satu pekan selama libur lebaran.
“Kami meminta Kamisama menyerahkan penanganan sampah ke DLH untuk sementara waktu. Pelayanan mereka tidak maksimal dan melenceng dari komitmen awal,” ujar Ahmad Farid baru-baru ini.
Selain masalah pengangkutan, warga menilai keberadaan TPS Kamisama justru tidak memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Farid menyebut, pembangunan TPS awalnya ditolak warga, namun tiba-tiba telah berdiri tanpa adanya dialog lebih lanjut. “Kami tidak merasakan manfaatnya. Justru yang ada adalah polusi bau dan risiko kesehatan,” tambahnya.
Baca Juga:Hore! Bentar Lagi Insentif Guru Ngaji di Bandung Segera CairPerumda Pasar Tohaga Siapkan Peluncuran Tohaga Mart sebagai Distributor
Lebih lanjut, Farid mengkritik respons lambat pengelola Kamisama dalam menangani keluhan. Setiap kali ada laporan penumpukan sampah, pihak perusahaan dinilai tidak segera mengambil tindakan. “Mereka terkesan menunda-nunda. Ini memperburuk kondisi,” ujarnya.
Warga berharap solusi konkret segera diwujudkan agar penumpukan sampah tidak kembali terjadi. “Kami hanya ingin lingkungan bersih dan layanan yang bertanggung jawab,” tegas Farid.
Menanggapi keluhan warga, Kepala Kawasan Kamisama Karangpanimbal, Delta Naufal, mengakui bahwa sistem manajemen perusahaan masih perlu perbaikan. Ia menjelaskan, saat ini Kamisama tengah berupaya meningkatkan kapasitas layanan dengan menambah jumlah pelanggan dari 2.000 menjadi 5.000 rumah. “Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk sosialisasi untuk meningkatkan jumlah pelanggan agar biaya operasional tercukupi,” kata Naufal.
Namun, Naufal mengungkapkan bahwa keterbatasan finansial menjadi hambatan utama. “Dengan jumlah pelanggan saat ini, kami kesulitan membayar retribusi dan memenuhi biaya operasional. Penambahan pelanggan diharapkan menjadi solusi,” jelasnya. Meski demikian, ia menjanjikan peningkatan kualitas layanan dalam waktu dekat. (CEP)
