Menurut Angga, mereka tidak membawa massa untuk menyerang, melainkan membangun kesadaran bersama. Sebuah kesadaran untuk mempertahankan rumah dan tanah.
Angga menyadari bahwa ancaman terhadap warga tidak hanya datang dari pengembang, tetapi juga dari kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan besar.
“Kami tidak membenci warga yang menyerang. Masing-masing orang memiliki keterbatasan. Ini proses. Jangan sampai mereka yang ingin bertahan sampai luntur,” ujarnya.
Baca Juga:H-5 Lebaran 2025, Arus Mudik di Nagreg Bandung Mulai Ramai, 48 Ribu Kendaraan MelintasSamsat Soreang Tingkatkan Fasilitas Pelayanan untuk Disabilitas, Ibu Hamil, dan Lansia
Ia menekankan pentingnya persatuan dalam menghadapi tekanan. “Maka kami silaturahim, meninggalkan anak-anaknya untuk menularkan semangat ibu-ibu. Kalau di antara kita ada rasa takut, itu wajar. Kita manusia. Kalau kita enggak takut sama sekali kita bukan manusia,” tegasnya.
“Kami pernah pelajari, siapa itu bukan orang sembarangan dan setara dengan kita. Mereka orang besar dengan modalnya bisa membeli tentara dan ormas. Suatu hari nanti ibu bapak bakal melihat ormas seperti itu,” katanya.
Baginya, satu-satunya cara bertahan adalah dengan bersatu. Melawan. Menurutnya, lawan mereka bukan orang sembarangan. Maka syarat utamanya, kata Angga, persatuan.
“Mudah-mudahan apa yang bapak ibu khawatirkan (selesai). Dari waktu ke waktu kami terus membuktikan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia,” pungkasnya.
Sementara itu, Jabar Ekspres sudah coba menghubungi Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Bandung. Melalui Humas, Agi, Jabar Ekspres mencoba mintai konfirmasi terkait sengketa lahan di Sukahaji. Namun hingga berita ini selesai ditulis, jawab tidak kunjung diterima.
