JABAR EKSPRES – Pembina Poros Sahabat Nusantara (POSNU) Kota Banjar, Muhlison, mengecam keras praktik oknum yang diduga menjadikan Madrasah Diniyah dan lembaga pendidikan Islam lainnya sebagai ‘sapi perah’ untuk kepentingan pribadi. Hal ini disampaikan menanggapi laporan dugaan pungutan liar (pungli) terkait perizinan operasional Madrasah Diniyah di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) setempat.
“Kami melihat gelagat kuat bahwa pungli di institusi bermoto ‘ikhlas beramal’ ini disengaja untuk mencari keuntungan. Madrasah Diniyah dijadikan objek sasaran, dan indikasi ini sangat kuat,” tegas Muhlison, Jumat (14/3/2025).
Menurutnya, kasus perizinan operasional hanyalah satu bagian dari pola sistematis yang merugikan lembaga pendidikan Islam.
Baca Juga:Selama Lebaran, Menteri ESDM Pastikan Pasokan Listrik AmanKasus Dugaan Korupsi Minyak Mentah, Ahok: Kejagung Harusnya Periksa Alfian Nasution
“Kami akan duduk bersama tokoh-tokoh yang peduli nasib Madrasah Diniyah. Tujuannya, agar pungli tidak terus mengganggu pengelola lembaga yang justru sedang berjuang mencerdaskan generasi bangsa,” jelasnya.
Ia menyayangkan tindakan oknum yang dinilai telah melampaui batas kepatutan.
“Para kiai dan ustadz mengabdi dengan tulus, menjadi benteng moral. Kok malah dijadikan sapi perah? Ini harus diakhiri!” tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, sejak kabar dugaan pungutan liar (pungli) oleh oknum pejabat terkait pengurusan izin operasional lembaga diniyah mencuat, Kepala Kantor Kemenag Kota Banjar, Ahmad Fikri Firdaus, tak henti mengingatkan stafnya untuk bekerja dengan hati nurani, bukan mementingkan kepentingan pribadi.
“Menanggapi isu pungli yang baru-baru ini mencuat, kami ingin menegaskan bahwa Kemenag Kota Banjar berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang bersih dan bebas dari praktik pungli,” kata Ahmad Fikri Firdaus.
