Menurutnya, setiap tarian, doa, dan prosesi dalam ‘Misalin’ adalah hasil kreasi leluhur yang perlu dirawat sebagai benteng melawan erosi budaya. Kini, saat obor ‘ngadamar’ telah padam dan pakaian adat tersimpan rapi, yang tersisa adalah harapan.
Harapan agar tradisi ini tetap mengalir dalam denyut nadi generasi muda, menjadi pengingat bahwa Ramadan tak hanya tentang puasa, tapi juga tentang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang nyaris terkikis. “Misalin merupakan cara kita untuk merawat tradisi,” katanya. (CEP)
