Walaupun urban farming dianggap sebagai solusi untuk ketahanan pangan di kota besar, Hannah menegaskan bahwa ini tidak bisa menjadi jawaban utama.
“Urban farming memang bisa membantu, tapi itu hanya solusi skala kecil. Ketahanan pangan yang lebih besar masih sangat bergantung pada keberadaan lahan pertanian yang cukup,” ujarnya.
Dirinya lantas mengingatkan, selain berdampak bagi ekosistem lingkungan, ketahanan pangan di Bandung juga terancam karena ketergantungan pada pasokan dari luar kota. Terlebih lahan saat ini kian menyusut.
Baca Juga:Alih Fungsi Lahan di Kota Bandung jadi Ancaman Ketahanan PanganData Sirekap Janggal! KPU Kota dan Kabupaten Tasikmalaya Digugat ke Komisi Informasi Jabar
“Memang benar, ketahanan pangan di Bandung perlu perhatian khusus. Banyak pasokan pangan yang datang dari luar kota, dan ini membuat ketahanan pangan kita sangat rentan,” tandasnya.
Diketahui sebelumnya, ruang bertani di Kota Bandung semakin sempit. Berdasarkan catatan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kota Bandung, dari total luas wilayah, hanya 4,3 persen atau sekitar 1.007 hektare yang masih berpotensi jadi persawahan.
Catatan itu menunjukan bahwa dalam dua dekade terakhir, penyusutan lahan pertanian di Kota Bandung terjadi secara masif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung mencatat bahwa pada tahun 2003, luas lahan sawah masih mencapai 2.104 hektare.
Angka tersebut terus menurun drastis menjadi hanya 725 hektare pada 2017. Sementara itu pada tahun 2024, tercatat lahan yang tersisa sebagai lahan sawah hanya seluas 702 hektare.
“Jika dilihat dari basis lahan, Kota Bandung memang terkendala. Walaupun hanya menyisakan sekitar 4,3 persen lahan sawah, sekitar 1.007 hektare masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terutama untuk padi,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar kepada Jabar Ekspres, baru-baru ini.
Akan tetapi penyisihan lahan sawah yang tersisa bukanlah satu-satunya upaya pemerintah. Menghadapi keterbatasan lahan, pemerintah juga mengandalkan urban farming melalui program Buruan Sae.
Pihaknya mendorong masyarakat untuk menanam pangan lokal di pekarangan rumah, seperti jagung dan ubi-ubian. “Selain padi, masyarakat bisa menumbuhkan potensi pangan lokal yang bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari,” ujar Gin Gin.
