Dia meminta Pemkab Bandung Barat untuk menindaklanjuti perusahaan atas kondisi tersebut agar tidak mencemari lingkungan hidup dan merusak kesehatan anak-anak, remaja, usia produktif, dan lansia yang ada di lingkungan tersebut.
“Kalau hujan air berubah jadi warna hitam pekat. Terus kalau kemarau, debu dari limbah itu tebal dan berterbangan. Dampaknya ke anak-anak jadi flu dan radang tenggorokan,” katanya.
Gangguan kesehatan yang dialami warga ini diduga disebabkan polusi udara yang muncul dari fly ash bottom ash (FABA) yang tertiup angin dan terhirup oleh mereka.
Baca Juga:Endorse Situs Judi Online, DJ Hits di Bogor Terancam 10 Tahun PenjaraBelum Berjalan Maksimal, Pemprov Jabar Sebut Pengurangan Sampah dari Bandung Raya ke Sarimukti Hanya Turun 42 Rit dalam Sebulan
“Ini limbah berupa abu warna hitam. Sehingga kalau ada angin, kebul. Kalau sudah gitu, kehisap sama kita,” paparnya.
Menurutnya, selain masyarakat, petani di wilayah tersebut juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait potensi kerusakan lahan pertanian akibat limbah batu bara ini, terutama ketika hujan turun dan limbah mengalir ke persawahan.
“Untuk saat ini dampak ke pertanian belum terlalu kelihatan. Karena mungkin belum ada hujan. Baru debunya yang kerasa,” ujarnya. (Wit)
