JABAR EKSPRES – Dilansir dari laman Aplikasi Real Time Berbagi Informasi (ARIMBI) Kota Bandung, hingga saat ini harga cabai rawit merah masih bertahan diangka Rp 85.000 perkilo. Nilai tersebut tentunya jauh dari harga normal yang berada pada kisaran Rp40.000 per kilo.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar membenarkan hal tersebut. Diakuinya, kenaikan imbas dari tak sebandingnya antara kebutuhan dan pasokan.
“Jadi produksi misalnya untuk cabai rawit, ini kan menghabiskan hasil panen dari bulan Juni kemarin. Karena nanti Agustus ini, akhir Agustus baru musim tanam lagi. Jadi istilahnya itu memanfaatkan stok tersisa. Jadi memang skala produksi sedikit, harganya pun naik,” tambahnya
Baca Juga:KPU Ingatkan Visi-Misi Calon Wali Kota untuk Adopsi RPJMDProgram Studi Teknik Mineral dan Pertambangan Banyak Diminati Masyarakat
DKPP Kota Bandung mengklaim bahwa kenaikan hanya terjadi pada komoditi cabai rawit. Gin Gin menyebut, 4 bahan pangan lain yakni beras, bawang merah, bawang putih dan daging ayam dalam kondisi stabil.
“Sebagian besar beras stabil yang lainnya komoditi lain stabil dan ini (kenaikan) dipengaruhi hanya dari sisi produksinya,” ujarnya.
Bahkan, terkait komoditi bawang kini tengah dalam harga terendah yakni Rp 20.000 perkilo. Hal ini didasari oleh musim panen di wilayah pemasok yakni Kota Brebes.
“Sekarang yang turun itu malah bawang merah. panen puncak di Brebes itu begitu banyak. Sehingga murah sekarang bawang merah. Yang lainnya, ya stabil. Bawang merah sampai ke Rp20.000, ya. Ini harganya satu kilo,” bebernya
Gin Gin memastikan, ditengah produksi cabai rawit yang mengalami defisit imbas belum jatuhnya masa tanam. Ketersediaan bahan pangan tersebut bisa tercover lewat program buruan sae yang masif di Kota Bandung.
“Secara umum kota Bandung itu relatif bisa terjangkau dari sisi ketersediaan maupun harga,” pungkasnya (Dam)
