JABAR EKSPRES – Akankah Ukraina bernegosiasi untuk meminta perdamaian ke Rusia, di saat negaranya memang membutuhkan perdamaian.
Presiden Belarus Alexander Lukashenko mengungkapkan pada Kamis (25/4) bahwa situasi terkini di Ukraina membuka peluang untuk mencapai kesepakatan perdamaian.
Namun, Lukashenko menegaskan bahwa jika Kiev enggan untuk berunding, risiko kehilangan kedaulatan negara tersebut akan meningkat.
Baca Juga:Indosat Catat Lonjakan Trafik Data Sebesar 17 Persen Sepanjang Perayaan Idulfitri, Kuningan Jadi Penyumbang Trafik Tertinggi di Jawa BaratSinopsis Film A Private War, Kisah Jurnalis Perang Pemberani
Dalam pidatonya di Kongres All-Belarusian di Minsk, Lukashenko menyatakan bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memulai dialog, mengingat kedua belah pihak, baik Rusia maupun Ukraina, tidak bisa mencapai keunggulan militer. Menurutnya, kondisi seperti ini sangatlah ideal untuk memulai perundingan.
“Ukraina membutuhkan perdamaian saat ini, buktinya, banyak warga Ukraina yang ingin keluar dari negaranya,” kata Presiden Belarus, sebagaimana mengutip dari ANTARA.
Lukashenko juga menyoroti kesulitan dalam bantuan militer yang diberikan oleh negara-negara Barat kepada Ukraina.
Lukashenko menyatakan bahwa Ukraina membutuhkan perdamaian saat ini, dan semua pihak harus bergerak menuju tujuan tersebut.
“Jika kita tidak bernegosiasi sekarang, Ukraina akan kehilangan status kenegaraannya seiring waktu dan mungkin tidak ada lagi. Ukraina membutuhkan perdamaian saat ini, kita harus bergerak menuju perdamaian,” tegas Presiden Alexander.
Sementara itu, Lukashenko menyebut kesepakatan Istanbul tahun 2022 sebagai titik awal untuk perundingan, namun dia menekankan bahwa hal itu tidak harus menjadi dasar utama.
Dia juga menilai bahwa “formula perdamaian” yang diusulkan oleh Zelenskyy tampaknya patriotik namun tidak realistis.
