Puluhan Mahasiswa Penerima Beasiswa dari Pemda KBB Terancam Putus Kuliah

JABAR EKSPRES – Puluhan mahasiswa penerima beasiswa dari Pemda Kabupaten Bandung Barat (KBB) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung terancam tak bisa mengisi kartu rencana studi (KRS) lantaran menunggak biaya semester.

Para mahasiswa yang terdampak pun mempertanyakan komitmen Pemda Bandung Barat terhadap nasib 27 mahasiswa yang saat ini kembali terkatung-katung.

Salah seorang mahasiswa penerima beasiswa asal Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, KBB, Toyib Fahran Hidayat mengatakan, KRS salah satu syarat agar bisa mengikuti bangku perkuliahan. Namun karena biaya semester menunggak selama satu tahun mereka terpaksa tak bisa ikut bangku perkuliahan.

“Sekarang kami tidak bisa ambil KRS. Masalah sama seperti tahun lalu gara-gara pemda belum bayar,” kata Toyib kepada wartawan, Minggu (4/2/2024).

Menurutnya, bukan kali ini saja Pemda Bandung Barat menunggak melakukan pembayaran. Pada awal tahun 2022, 50 mahasiswa jurusan PGMI ini sempat mengalami hal sama, bahkan terpaksa harus mengambil cuti selama 1 tahun.

“Kalau dulu gak bayar semester 1-3, sekarang semester 4 dan 5 belum dibayarkan,” jelasnya.

BACA JUGA: Seruan Forum Keluarga Besar IPB atas Praktik Penyimpangan Demokrasi Era Jokowi

Toyib khawatir, dia dan kawan-kawannya tak bisa kmbali melanjutkan pendidikan tinggi. Sebab, tunggakan pembayaran daei pemerintah ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus membengkak.

“Jerih payah dan waktu yang selama ini dicurahkan untuk menimba ilmu harus kandas di tengah jalan,” keluhnya.

“Kalau tanpa kejelasan, kita khawatir kena drop out. Dulu sempat diberi keringanan untuk cuti karena ada jaminan dari pihak pemda, sekarang gak tahu lagi gimana. Pemda gak tanggung jawab, padahal kita sudah sekuat tenaga belajar dan curahkan waktu,” tambahnya.

Pengalaman kelam itu sempat terjadi saat terjadi sendatan pembayaran tahun 2022. Karena tidak ada kejelasan dari pemda untuk bayar uang semester, 23 dari 50 penerimana beasiswa memutuskan putus kuliah. Mereka tak sanggup menunggu lama tanpa kepastian.

“Dulu jumlah penerima beasiswa ada 50 orang. Karena sempat menunggak ada yang berhenti, pulang ke kampung, atau pilih kerja. Jadi sekarang yang masih kuliah tinggal 27 orang,” terang Toyib.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan