Israel Berencana Hancurkan Gaza untuk Proyek Kanal Ben Gurion?

JABAR EKSPRES – Ben Gurion Canal Project atau Israeli Canal (Proyek Kanal Ben Gurion atau Kanal Israel), merupakan sebuah proposal untuk pembangunan kanal melalui negara Israel. Kanal itu akan menghubungkan Teluk Aqaba ke Laut Mediterania.

David Ben Gurion, merupakan pendiri Israel dan Perdana Menteri Israel yang pertama. Kanal tersebut akan bersaing dengan Suez Canal (Kanal Suez) di Mesir.

Rute yang diterapkan untuk Kanal Ben Gurion berawal dari bagian Selatan Teluk Aqaba, dekat dengan Kota Pelabuhan Eliat di Israel di perbatasan Israel dan Yordania. Melalui Lembah Arabah sepanjang 100 km di antara Pegunungan Negev dan Dataran Tinggi Yordania dan berbelok ke Barat sebelum Cekungan Laut Mati dan Laut Mati yang berada 430,5 meter di bawah permukaan laut, dan menuju ke sebuah lembah di Pegunungan Negev, kemudian menuju ke utara lagi untuk melewati Jalur Gaza dan terhubung dengan Laut Mediterania.

Mesir memiliki, mengontrol, dan mengoperasikan Kanal Suez atau Terusan Suez hingga saat ini, tetapi dulunya dimiliki oleh investor Preancis yang memiliki setengah dari saham perusahaan terusan dan penguasa Mesir Sa’id Pasha memiliki sebagian besar sisanya.

BACA JUGA: Iron Dome Israel Error dan Menyerang Kota Sendiri

Pada tahun 1875, krisis keuangan memaksa penerus Sa’id, Isma’il Pasha, untuk menjual saham negara kepada Inggris. Perusahaan Suez mengoperasikan terusan tersebut hingga Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser mencabut konsesi pada tahun 1956 dan mengalihkan pengoperasian terusan itu kepada Otoritas Terusan Suez milik negara.

Setelah itu, terjadi lah Krisis Suez, atau lebih dikenal sebagai perang Arab-Israel kedua.

Pada hari yang sama, ketika terusan tersebut dinasionalisasi, Nasser juga menutup Selat Tiran untuk semua kapal Israel. Krisis itu membuat Inggris, Prancis, dan Israel menginvasi Mesir.

Inggris, Prancis, dan Israel menyerbu Semenanjung Sinai Mesir pada tanggal 29 Oktober 1956, memaksa Mesir untuk melibatkan pasukannya. Hal itu, memberikan alasan bagi aliansi Inggris-Prancis untuk menyatakan pertempuran terssebut sebagai ancaman terhadap stabilitas di Timur Tengah dan memasuki perang, yang secara resmi untuk memisahkan kedua kekuatan tersebut. Namun, pada kenyataannya, itu bertujuan untuk mengambil alih Terusan Suez dan menjatuhkan pemerintahan Nasser.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan