JABAR EKSPRES – Sejak 7 Oktober, warga Israel telah memiliki kesulitan untuk menemukan kata-kata yang cukup kuat untuk menyatakan trauma yang mereka rasakan atas apa yang terjadi pada hari itu. Banyak dari mereka yang menyaksikan para jenderal Israel, tentara yang tewas dan ditahan oleh para pejuang Hamas.
Banyak warga Israel yang mencoba untuk memahami peristiwa pada 7 Oktober dengan membandingkan Hamas dengan ISIS. Tagar “#HamasisISIS” menjadi tren di media sosial karena pemimpin Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sering membandingkan keduanya. Namun, para ahli gerakan Islam dan pejabat kontraterorisme mengatakan bahwa perbandingan ini salah.
Hamas, sebagai gerakan Islam nasionalis Palestina, memiliki perbedaan ideologi yang signifikan dengan ISIS.
Baca Juga:Cara Membuat Deskripsi Poster Disney Pixar dengan Bahasa Indonesia dan Contohnya11 Contoh Tulisan Poster Disney, Gratis Tinggal Copy!
Perbedaan pertama yang mencolok adalah bahwa Hamas adalah gerakan Islam nasionalis Palestina, sementara ISIS adalah gerakan pan-Islamism transnasional yang ingin mengumpulkan umat Islam menjadi sebuah “negara Islam” yang tidak terikat dengan proyek nasionalis mana pun.
Hamas juga memiliki fokus yang lebih lokal, yaitu mencapai “pembebasan seluruh Palestina” dari apa yang mereka sebut sebagai “musuh Zionis”.
Perbedaan utama lainnya adalah tingkat ekstremisme agama. Hamas memiliki pendekatan konservatif terhadap agama, tetapi tidak dengan kejam melecehkan atau membunuh non-Muslim di Gaza karena keyakinan atau agama mereka. Wanita yang tidak mengenakan hijab, orang yang memiliki tato, dan remaja yang mendengarkan musik Amerika juga masih ditoleransi di bawah pemerintahan Hamas.
Hal ini juga dapat membantu meraih dukungan dari AS dan opini publik internasional. Namun, pendekatan retorika ini tidak hanya menggambarkan Hamas sebagai ancaman bagi Israel, tetapi juga bagi negara-negara Barat seperti Prancis dan Amerika.
