Doa Minta Hujan yang Berkah Dari Kemarau Panjang

JABAR EKSPRES – Sebagian wilayah Indonesia kini sedang mengalami kemarau panjang yang membuat banyak tanah mengering dan debu berterbangan. Hal ini juga yang diduga sebagai salah satu sebab terjadinya polusi udara. Karenanya mulai banyak yang memanjatkan doa untuk minta hujan.

Diharapkan dengan datangnya hujan bisa menghilangkan polusi udara yang kini sedang terjadi, hingga membuat banyak masyarakat terserang penyakit. Karenanya mulai banyak yang mengadakan doa bersama untuk minta hujan.

Namun untuk berdoa meminta hujan, tidak selalu harus diadakan secara bersama-sama, namun juga bisa dilakukan secara individu masing-masing.

Ada berbagai macam versi doa minta hujan yang diajarkan Rosulullah dari riwayat beberapa hadis. Untuk kamu yang tertarik membacanya bisa memilih versi mana yang menurutmu paling mudah untuk di hafalkan dan dibacakan.

Baca juga : Hujan Jarang Turun? Amalkan Doa Meminta Hujan Turun Ini!

Berikut beberapa doa minta hujan dari berbagai versi diansir dari laman nu.or.id:

1. Doa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.

Berisi permintaan hujan yang menyuburkan, tidak membahayakan, dan bermanfaat.

اللهمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا, نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ أٰجِلٍ

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 174)

2. Doa yang dipanjatkan karena permintaan seorang Badui.

Seorang Badui yang mendatangi Rasulullah mengeluh bahwa binatang ternaknya banyak yang mati dan anak-anak tidak pernah kenyang karena kelangkaan susu untuk diminum.

Kemudian Rasulullah berdiri di atas mimbar, bertahmid dan memuji Allah. Beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa:

اللهمّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا سَرِيْعًا مَرِيْعًا غَدَقًا طَبَقًا، عَاجِلًا غَيْرَ رَائِفٍ، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ تَمْلَأُ بِهِ الضَّرْعُ، وَيَنْبُتُ بِهِ الزَّرْعُ وَتُحْيِي بِهِ الْأَرْضُ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرِجُوْنَ

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang merata, segera, menyuburkan, lebat, merata, segera tanpa kelambatan, bermanfaat tanpa bahaya. Hujan yang dapat memenuhkan ambing (kantong kelenjar) susu binatang ternak, yang menumbuhkan tanaman, yang menghidupkan tanah setelah mati (karena kekeringan).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 174)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan