Kyi dan beberapa pejabat pemerintah ditangkap dan ditahan oleh junta militer.
Ia, yang pernah meraih penghargaan Nobel, dihadapkan pada berbagai tuduhan termasuk korupsi dan kecurangan pemilu.
Komunitas internasional telah merespons tindakan keras junta militer terhadap Kyi dengan kritik dan panggilan untuk pembebasan tahanan politik.
Baca Juga:Kebakaran Hutan Eropa dan Amerika Bisa Berdampak Bahaya untuk Tahun-Tahun ke DepanKTT Afrika dan Poros Barat Mengutuk Aksi Kudeta Militer Niger
Regional Asia Tenggara, melalui ASEAN, juga berusaha untuk meredakan krisis di Myanmar dengan mengirimkan utusan untuk berdialog dengan semua pihak yang terlibat, termasuk junta dan Aung San Suu Kyi.
Namun, upaya diplomasi ini belum membuahkan hasil yang signifikan. Pada bulan Juli, Menteri Luar Negeri Thailand, Don Pramudwinai, mengklaim telah bertemu dengan Aung San Suu Kyi, menjadikannya pejabat asing pertama yang berhasil berinteraksi langsung dengan pemimpin sipil tersebut.
