Waspada! Potensi Hujan Terjadi hingga Pekan Depan, Begini Penjelasan BMKG

BANDUNG, JABAR EKSPRES – Hujan di tengah musim kemarau kerap terjadi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, hal tersebut masih bisa berpotensi hingga 10 Juli 2023 mendatang.

Kepala BMKG Stasiun Geosfisika Bandung, Teguh Rahayu mengatakan, curah hujan yang terjadi di tengah musim kemarau saat ini, telah terjadi sejak 4 Juli 2023 lalu.

“Informasi tersebut berkaitan dengan adanya signifikansi dinamika atmosfer, yang dapat meningkatkan potensi hujan pada periode awal musim kemarau tahun ini,” kata Rahayu kepada Jabar Ekspres melalui seluler, Minggu (9/7).

BACA JUGA: 268 Pelaku Usaha Ramaikan Pasar Kreatif Bandung 2023

Dia menjelaskan, potensi tersebut terkonfirmasi berdasarkan data analisis cuaca dalam tiga hari terakhir, termonitor terjadi hujan intesitas lebat hingga sangat lebat mengguyur beberapa wilayah.

“Di Bengkulu, sebagian besar Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Maluku, dan wilayah Papua,” jelas Rahayu atau akrab disapa Ayu.

“Bahkan curah hujan ekstrem terjadi di Bali bagian Barat dalam dua hari terakhir,” tambahnya.

Ayu mengungkapkan, informasi terbaru dinamika atmosfer berdasarkan analisis terakhir, beberapa faktor dinamika atmosfer skala regional hingga lokal, diprakirakan masih berperan cukup signifikan, dalam memicu peningkatkan pertumbuhan awan hujan untuk sepekan ke depan.

BACA JUGA: PAD Kota Bandung Tahun 2022 Tembus Angka Rp2 Triliun

Beberapa Faktor Dinamika Atmosfer Utama:

  1. Aktifnya Madden Julian Oscillation (MJO) serta gelombang ekuator, seperti gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial di sekitar wilayah Indonesia, yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan secara tidak langsung meningkatkan potensi curah hujan tinggi.
  2. Terjadinya pola belokan dan perlambatan angin di sekitar wilayah Indonesia, yang dipicu oleh adanya pola sirkulasi di sekitar wilayah Samudera Pasifik Utara Papua Barat. Kondisi ini dapat turut memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan.

“Dalam sepekan terakhir, anomali suhu muka laut di perairan Indonesia secara umum relatif normal. Dimana anomali antara 1 sampai 2 oC (temperatur) terjadi di sebagian kecil perairan Utara dekat pesisir Jawa hingga Nusa Tenggara,” ucap Ayu.

“Sebagian perairan selatan Sulawesi, sekitar perairan Maluku dan selatan Papua, sedangkan untuk wilayah perairan lain umumnya berada pada anomali dibawah 1 oC,” lanjutnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan