“Persembahan HJB tahun ini digarap dengan konsep tari yang atraktif dinamis dan artistik. Sebanyak 25 penari nama garapan tari Nyi Mas Putri Kararas Sari yang berarti karya Motekar barang bekas. Jadi pakaian kostum aksesoris yang digunakan itu semua terbuat dari barang limbah,” tuturnya.
Hal itu lanjut Abdurrahman dilakukan sebagai perwujudan kebahagiaan warga Bogor Selatan untuk menjaga Adipura dan peduli terhadap lingkungan.
Aksesoris pusaka kujang dan gunungan, identik sebagai pusat dayeuh sejarah yang kaya atas peninggalan kerajaan Pajajaran dengan alam yang indah, hijau, asri, bersih di bawah kaki Gunung Salak.
Baca Juga:Generali Indonesia Ambil Bagian dalam Event Borobudur Marathon 2023Begini Pesan Ridwan Kamil untuk Pj Gubernur Jawa Barat
”Hasil bumi yang subur dan UMKM yang maju dan berkembang diusung pada jampana menjadi kebanggaan dan rasa syukur kepada yang telah menganugerahkan wilayah yang subur makmur,” ujarnya.
Di akhir penampilan setiap kecamatan, dibagikan isi dari dongdang yang dibawa kepada masyarakat. Pembagian isi dongdang atau Jampana itu pun menjadi momentum yang ditunggu tunggu oleh masyarakat.
Wali Kota Bogor, Bima Arya diakhir kegiatan menyampaikan rasa syukur dan bahagianya melihat suka cita warga bersama-sama menyaksikan helaran.
“Sangat gembira melihat warga bersukaria, setelah cukup lama menahan karena pandemi, tapi terharu karena ini kesempatan terakhir merayakan HJB bersama warga sebagai wali kota. Saya betul-betul mendoakan agar wali kota berikutnya bisa menjaga tradisi yang sudah baik, kebersamaan bersama warga, sebagai kota untuk semua,” ujarnya.
Bima Arya mengaku bangga memiliki warga yang hebat dan modal sejarah yang sangat luar biasa dalam membangun kekuatan dan kebersamaan bersama warga.
“Saya yakin sudah on the track akan menjadi kota terbaik di Indonesia, dengan syarat menjaga kebersamaan,” pungkasnya. (yud/yan).
