“Faktor sosial ekonomi juga, karena orang tuanya tidak mampu, jadi dia tidak bisa memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi anak atau masalah pola asuh, bisa jadi orang tuanya tidak mampu tapi bisa jadi tidak paham,” sambungnya.
Menurutnya, secara teori Dinkes hanya berperan pada hal-hal yang spesifik seperti pemberian vitamin, mengedukasi agar memberikan air susu ibu (asi) secara eksklusif, dan pemberian gizi lainnya. Akan tetapi, sebanyak 70 persen dilakukan secara intervensi sensitif di luar intervensi spesifik yang dilakukan oleh Dinkes.
“Jadi 70 persen intervensi stunting dampaknya di intervensi sensitif di luar intervensi kesehatan. Seperti misalnya memastikan harga aman di pasar karena ada kaitan dengan sosial ekonomi keluarga yang tidak mampu,” kata Dewi.
Baca Juga:Tanpa Wali Kota Bandung, Segini Angka Inflasi!3.186 Warga Terjangkit Sifilis, Ridwan Kamil Intruksikan Hal Ini ke Dinkes
Meski begitu, Dinkes Kota Bandung tetap melakukan antisipasi dengan berbagai cara baik mulai melakukan edukasi serta pendampingan pada pasangan yang akan menikah, ibu hamil, dan ibu menyusui mengenai pencegahan stunting.
Untuk itu, masalah stunting bisa selesai dengan komitmen menggubah perilaku dan memperhatikan gizi anak. “Perkara stunting beres dengan menggubah perilaku,” sebutnya.
Saat ditanya mengenai anak yang sudah terdeteksi stunting, Dewi menegaskan, bahwa pihaknya melakukan pendampingan dan monitoring.
“Kalau sudah terdeteksi stunting, misalnya tinggi badannya pendek, kami melakukan pendampingan mulai memberikan vitamin dan juga monitoring, juga diedukasi pola makan,” ucapnya. (mal)
