“Terharu, senang sekali, ketika diminta oleh Bu Nana saya langsung setuju, momen penting, momen sejarah yang harus dilestarikan,” terang Guntur.
Di buku Sudarsono Katam, Bandung: Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah (2008) memuat 3 keping perangko yang menggambar Observatorium Bosscha.
Dua keping Perangko dibuat tahun 2003, dan satu Perangko dibuat tahun 1968. Sementara itu dalam catatan PT Pos Indonesia, Observatorium Bosscha pernah diabadikan dalam prangko sedikitnya sebanyak 4 kali yakni tahun 1968, tahun 2001, 2003, serta tahun 2009.
Baca Juga:Siap-siap Ketagihan, First Media Sekarang Punya Rasa yang Berbeda dengan Kecepatan Internet hingga Lima Kali Lebih KencangIbu Negara Apresiasi Pemprov Jabar, Atalia Ridwan Kamil Kampanyekan Tanam Pohon Buah
Petugas Pameran Prangko PT Pos Indonesia, Oce Mulyana mengatakan sebelumnya Observatorium Bosscha pernah dijadikan perangko sebanyak empat kali.
“Selain ke 100 tahun, sebelumnya Observatorium Bosscha pernah jadi prangko sebanyak 4 kali. Yakni tahun 1968, tahun 2001, 2003, dan tahun 2009,” kata Oce Mulyana, saat ditemui di Lembang, Senin (30/1/23) kemarin.
Menurutnya, dijadikannya Observatorium Bosscha untuk prangko memiliki momen sejarah yang berbeda-beda. Seperti perangko tahun 1968 yang melukiskan Teleskop dan Galaksi bintang dibuat untuk memperingati 40 tahun Observatorium Bosscha yang baru ditetapkan awal operasi tahun 1928. Sementara pada tahun 2009 prangko gambar Observatorium Bosscha dipakai untuk memperingati tahun Astronomi Internasional.
” tiap dibuat prangko ada sejarahnya masing-masing,” kata Oce
Usia Seratus Tahun kiblat Astronomi di Indonesia, yang menua dan diserang berbagai gejala mulai polusi cahaya, alih fungsi lahan, dengan alasan ekonomi serta pembangunan merongrong ilmu pengetahuan. Usia Seratus Tahun bukanlah usia yang sebentar, bertahan di tengah gempuran ancaman, di sini Ursone sang peternak menghibahkan sepetak lahannya di bagian utara Bandung yang hari ini masuk menjadi geografis wilayah Kabupaten Bandung Barat.
Pada 1920 berdiri sebuah perkumpulan astronom bernama Nederland Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) di Hindia Belanda. Lalu kemudian pada 12 September 1920 NIVS mengadakan rapat di Grand Hotel Homann untuk membangun sebuah Observatorium.
KAR Booscha yang menggagas berdirinya perkumpulan tersebut, pada Oktober 1922 kontruksi awal bangunan Booscha dibuat yang didesign oleh arsitek C.P Wolf Schoemaker bangunan teropong bintang yang dipesan dari Carl Zeiss Jena di Jerman dipersiapkan berdasarkan bangunan arsitek .
Pada 1 Januari 1923 lalu, Observatorium Booscha, atau disebut juga “Bosscha Sterrenwacht” diresmikan oleh Gubernur Jendral de Fock sebagai penghargaan kepada keluarga Booscha.
