Kopi Bekjul di Cicalengka Bandung, Ngopi Pagi Biar Happy

Kopi Bekjul di Cicalengka Bandung, Ngopi Pagi Biar Happy
Abdullah Adam tengah meracik pesanan pembeli di depan Gedung Pegadaian, sebrang Kantor Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. (Foto: Yanuar Baswata/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Adam yang belum mengganti posisi duduknya menerangkan, pada 2018 lalu itu sempat bingung sebab dirinya tak punya kendaraan lain, hanya punya motor C70.

“Motor ini saya punya dari gaji pertama saya pas jadi barista tahun 2015. Mesinnya udah enggak original, diganti pake supra biar lebih bertenaga, komponen lainnya enggak ada yang diganti biar ada ciri lkhas kalsik,” terangnya sambil menyisir rambut panjangnya ke belakang.

Sesekali perangkat kecamatan terlihat hilir-mudik, di dekat gerbang kantor masih cukup ramai aktivitas SIM Keliling dari Polresta Bandung.

Baca Juga:Hari Pangan Sedunia, HIPMI dan DKPP Kota Bogor Bagikan Ribuan Paket Sayuran dan TelurAda Oknum Pungli di Jalur Truk Tambang, Bupati Bogor Minta Petugas Lakukan Tindakan Tegas

Di tengah kegiatan orang-orang, Adam menjelaskan, dirinya pada 2018 meski sudah keluar dari kerjaannya sebagai barista, tidak langsung mengeksekusi konsep bisnis kopi bike atau kopi bekjulnya tersebut.

Kopi Bekjul di Cicalengka Bandung, Ngopi Pagi Biar Happy

“Sempet jaga warung dulu dan 2020 mulailah kopi bike. Pas awal itu cuma stay di bukit Candi (Cicalengka) bareng teman-teman, karena ribet juga waktu awalan berdikari itu,” jelasnya sambil kembali menyisir rambut yang sedari tadi sudah rapih di balik ciput hitam.

Sejak awal berbisnis menjemput bola dengan konsep kopi bike, Adam mengaku, alat-alat untuk membuat kopi belum bisa banyak dia bawa.

“Karena saya fokus meja seduhnya. Waktu awalan alat-alat masih bingung disimpen di mana. Modelan motor sekarang dengan perlengkapannya ini, berarti sudah tiga kali ganti konsep,” imbuhnya dengan tangan kanan menunjuk ke arah motor seakan mengajak Jabar Ekspres membayangkan kondisi C70 miliknya yang belum dilengkapi boks di bagian jok belakang.

Adam sambil tertawa riang mengingat momen awalannya berdikari, setiap diam di Candi Cicalengka, katanya kopi bike harus dibantu oleh dua sampai tiga orang temannya.

“Setelah terkonsep lagi saya desain kembali motor biar bisa bawa banyak barang (untuk membuat kopi) termasuk kompor dan tabung gas,” papar Adam yang lagi-lagi meenyisir rambutnya meski sudah rapi menggunakan jari tangan.

“Motor saya modal beli bekas ditotal sama box itu habis Rp5 jutaan. Konsep saya kopi roasting bukan gunting (sachet),” tambahnya.

Baca Juga:SKPD Pemkot Bandung Harus Sigap Cuaca EkstremJughuhn, Sosok yang Dilupakan dan Ditinggalkan Sejarah Indonesia

Adam menuturkan, tujuan utamanya membangun bisnis unik tersebut yakni, untuk mematahkan stigma kopi roasting yang hanya bisa dibeli dan dikonsumsi di kafe, dengan harga yang tergolong mahal.

0 Komentar