Tidak ada yang tahu pasti apa yang menyebabkan peningkatan risiko gangguan mental pada individu yang ber-IQ tinggi. Namun, sebuah studi menemukan bahwa kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh gen NCS-1 yang bertanggung jawab untuk memelihara aktivitas dan kekuatan hubungan antar saraf di otak.
Orang-orang yang cerdas memiliki jumlah reseptor NCS-1 yang lebih tinggi. Peningkatan jumlah reseptor NCS-1 telah dikaitkan dengan risiko skizofrenia dan gangguan bipolar.
Studi lain dari tahun 2005 juga menemukan bahwa orang yang menunjukkan performa intelegensi terbaik pada tes matematika cenderung memiliki gangguan bipolar.
4. Skor tes IQ bisa naik turun
Baca Juga:Terungkap, Begini Sadisnya Polwan Brigadir IR yang Hajar Pacar Adiknya Hingga Sebabkan Ketua RW MeninggalLink Tes Ujian Kesetiaan Terbaru 2022, Cek Potensi Kamu Bakal Selingkuh
Fakta selanjurnya, skor tes kecerdasan Anda tidak akan selalu sama. Hasil tes IQ sangat mungkin berubah sejak pertama kali Anda ikut tes saat masih anak-anak.
Pasalnya, kecerdasan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh riwayat akademis di sekolah, tapi juga dari pengalaman hidup dan bagaimana Anda bersosialisasi di tengah masyarakat.
Naik turunnya skor IQ juga dikaitkan dengan perubahan otak seiring bertambahnya usia. Otak pada anak-anak yang masih kecil belum berkembang sempurna, sehingga mungkin hasil tes IQ akan lebih rendah bila dibandingkan saat mereka tumbuh nanti.
Lalu, teori menurut Richard Nisbett, dosen psikologi di University of Michigan, IQ dapat berubah setiap saat. Dalam masyarakat modern, kemampuan otak pun bertambah sehingga sangat mungkin skor IQ meningkat 3 poin tiap 10 tahun sekali.
Apapun hasilnya, tes kecerdasan kognitif ini bukanlah penentu yang dapat memprediksi masa depan Anda. Sesungguhnya, karakter manusia lebih kompleks dari sekadar tingkat kecerdasan. Jadi, jangan biarkan hasil skor IQ menghalangi Anda untuk menggapai hidup sukses.
