oleh

Angka Perceraian di Jawa Barat Paling Tinggi Senasional, Menurut Data

Jabarekspres.com — Pada 2021, Jawa Barat menempati posisi pertama sebagai provinsi yang memiliki angka perceraian tertinggi di antara provinsi lainnya, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan dikutip oleh Databoks Katadata, Senin (28/2/2022).

Adapun penyebab tingginya perceraian, menurut data dari BPS, karena pertengkaran dan perselisihan yang tak menemui jalan tengah di antara suami dan istri.

Kemudian, faktor lain yang menjadi penyebab perceraian adalah karena masalah ekonomi, salah satu pihak (suami/istri) yang mangkir, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dengan demikian, perselisihan dan pertengkaran yang kerap terjadi antara suami dan istri tetap menjadi masalah yang utama dari perceraian semenjak 2020.

Kembali mengutip Databoks Katadata, Komnas Perempuan mencatat bahwa perselisihan dan pertengkaran mencapai 176,7 ribu kasus pada 2020. Sementara itu 71,2 kasus karena masalah ekonomi; 34,7 kasus karena salah satu pihak pergi; dan 3,3 ribu kasus karena masalah KDRT.

Baca Juga:  DPRD Soroti Kinerja Pemkot Bogor Atasi Aksi Perundungan, DPS: Miris!

Hingga 2021, hal-hal tersebut menjadi latar belakang atas kasus perceraian di Indonesia dengan total keseluruhan sebanyak 447.743 kasus.

Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa angka perceraian di Tanah Air mengalami peningkatan sebanyak 53,50 persen jika dibandingkan dengan tahun 2020.

Sebagai yang tertinggi, Jawa Barat menyumbang 21,9 persen atau mencapai 98.088 kasus dari total kasus perceraian nasional. Dan sebanyak 75,6 persen perceraian di Jawa Barat karena cerai gugat yang diusulkan pihak istri, sementara 24,4 persen karena cerai talak yang diajukan pihak suami.

Dengan melihat data tersebut, maka permasalahan perceraian ini mesti mendapatkan perhatian dari semua kalangan, pun dari pemerintah.

Baca Juga:  Rima Melati Pergi Meninggalkan Banyak Kontribusi bagi Dunia Hiburan Indonesia

Perceraian memang merupakan ranah privat. Namun, perceraian mempunyai konsekuensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Perceraian bukan sekadar masalah suami dan istri. Sebab, permasalahannya adalah, bagaimana jika si suami dan istri itu sudah mempunyai anak? Anak adalah korban utama dari perceraian.

Jika melihat data di atas, apa yang si anak rasakan ketika melihat orang tua bertengkar dan berselisih terus menerus? Inilah yang harus diperhatikan oleh mereka yang hendak menikah. Sejatinya, pernikahan bukanlah hal yang main-main.

Pertengkaran dan perselisihan adalah bagian dari pernikahan, sesuatu yang pasti terjadi di antara suami dan istri. Namun, ketika mereka bertengkar atau berselisih, maka jangan lupa bahwa suami adalah ayah, sedangkan istri adalah ibu, bagi anaknya.

Sumber: Databoks Katadata

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.