oleh

Membaca Artbook, Membaca Seniman: Dari Catatan Hutang sampai Pergulatan Gagasan

ARTBOOK alias artist’s book merupakan ‘buku’ catatan yang dimiliki tiap seniman. Menariknya, tidak melulu diisi oleh pergulatan gagasan dan ide-ide karya yang belum dilahirkan. Artbook bisa pula cuma berisi curahan hati ditinggal kekasih, syair-syair pujangga, dan sisi paling intim seorang seniman: catatan-catatan hutang.

Muhamad Nizar, Jabar Ekspres

Menuangkan kekalutan ketika berkarya, seorang seniman acapkali meninggalkan berbagai macam catatan. Entah itu catatan perbaikan supaya hasil karya menyentuh paripurna, maupun kekalutan-kekalutan lain yang menganggu masa penciptaan.

Jalannya penciptaan sebuah karya, tentu, meninggalkan jejak-jejak proses kreatif yang berceceran. Artbook menjadi suatu wadah yang menampung semua ini. Keresahan ide-ide dan sebuah gagasan karya yang belum dipublikasikan. Semuanya ada di sana.

Bentuk artbook pun tidak paten, tidak mesti catatan, goresan pena atau barisan kalimat tegas semacam jurnal ilmiah. Ia lentur, seumpama buku diary, catatan harian, coretan asal, semacam corat-coret di toilet. Bisa juga digoreskan dalam suatu buku gambar, maupun buku tulis kecil yang biasa bertengger di rak sebuah supermarket.

Ia berisi catatan dari perjalanan sang seniman yang boleh dikatakan, hidup biasa-biasa saja. Sedih, puyeng, senang, gelisah, dan segala emosi penuh tekanan serta kebahagiaan saat berkarya. Tak jarang semua hal itu tumpah ruah dalam sebuah artbook.

Kendati terasa serba muram, dari semua corat-coret yang acak itu, tidak dipungkiri, sedikit banyak memberi sumbangsih dan menjadi asal muasal terciptanya sebuah karya.

“Artist’s Book ini merupakan hal penting. Kita bisa melihat sisi pribadi, peristiwa hidupnya (seniman), atau rancangan-rancangan dia ketika membuat (karya) masterpiece,” ungkap panitia Bandung Artist’s Book Exhibition, Riski Lutfi Wiguna kepada Jabar Ekspres, kemarin.

Riski mengatakan, peristiwa tersebut bisa jadi merupakan rentetan kisah yang jarang terlihat dalam sebuah karya seorang seniman. Atau mungkin, memang tak ada niatan juga untuk memperlihatkannya. Lantas artbook menjadi tempat seniman untuk sarana pelampiasan, serta menjelma jadi bagian dari karya itu sendiri.

Di luar negeri, artbook milik seorang seniman biasa dipakai sebagai bahan riset dan data tambahan. Kegiatan dokumentasi tokoh besar dunia seni sangat terbantu dengan adanya catatan tersebut. Lantaran mengintip dari dekat, sisi paling intim pribadi sang seniman.

“Semua tertuang di sana, di artbook. Makanya, yang biasa kita lihat di galeri, (karya) mungkin ‘clean’. Karya-karya seniman sangat clean, indah, dan bagus. Tetapi saat melihat artbook-nya, ternyata, banyak gejolak dan permasalahan yang dituangkan di situ,” kata Riski.

“Isinya (artbook) berbagai, bisa catatan, puisi-puisi, lukisan, atau ada yang benar-benar (mencoba) berkarya di artbook. Banyak rahasia (seniman) yang orang-orang umum tidak tahu,” ungkap penggagas Drawing Class 212 ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.