Membaca Artbook, Membaca Seniman: Dari Catatan Hutang sampai Pergulatan Gagasan

Catatan Hutang-hutang

Project Manager Bandung Artist’s Book Exhibition, Trio Muharam mengaku bahwa dalam pameran tersebut, dia juga ikut memajang artbook pribadinya. Tak melulu menuangkan gagasan yang berkelindan, artbook miliknya mencatat curhat dan barisan angka yang belum lunas.

“Itu, kan, karena (artbook) mirip diary atau jurnal harian. Banyak, kayak curhat cinta juga ada. Kalau aku, sih, apapun. Beneran apapun, seperti catatan hutang, bon pameran, atau rancangan ide dan gagasan untuk pameran selanjutnya. Itu aku catat, biar tidak lupa,” ungkapnya sembari tertawa.

Bandung Artist’s Book Exhibition merupakan pameran artbook yang pertama kalinya di Indonesia, yakni dengan konsep mempublikasikan dan memamerkan artbook milik seniman dalam negeri dari berbagai daerah.

Diikuti oleh sekira 80-an seniman, diantaranya 35 seniman undangan seperti; Ugo Untoro, Tisna Sanjaya, Mella Jaarsma, Hanafi, Afrizal Malna, Dedy Sufriadi, Deddy PAW, Iwan Effendi, Gusmen Heriadi, Agus Koecink, Mufti “amenk” Priyanka, Gindring Waste, Candrika Soewarno dan 40 seniman yang lolos dalam proses kurasi.

Bandung Artis’s Book Exhibition diselenggarakan pada tanggal 20 sampai 30 Mei di Thee Huis Gallery, Bandung. Pameran ini juga masih rangkaian dari bagian perayaan bulan menggambar nasional, bekerja sama dengan komunitas Drawing Class 212, Scovad studio dan Thee Huis Gallery.

Mengingat catatan-catatan personal itu dipamerkan dalam Bandung Artist’s Book, catatan hutang tersebut tak ubahnya konsumsi publik. Rahasia umum. Trio justru menilai bahwa itu menjadi sisi menariknya.

“Dulu agak malu, nanti ketahuan (sisi pribadi). Toh, selain itu, ternyata (artbook) menawarkan sisi lain dari pelaku seni. Kemudian, kan, itu yang ditawarkan, (pameran ini) menjadi lebih menarik,” ungkap pegiat seni Drawing Class 212 ini.

Trio mengaku, selain membicarakan ruang pribadi seniman. Pameran ini pun menawarkan persoalan seni lainnnya. Bahwa semua orang memiliki daya untuk memiliki dan menciptakan.

Jurnal atau catatan, kata Trio, merupakan hal biasa. Lantaran semua orang hakikatnya memang sering mencatat, baik soal masalah personal maupun beragam peristiwa berkesan.

“Dan kita semua pada dasarnya punya kemampuan untuk menawarkan gagasan. Nah, (bagi seniman) untuk momen menunjukkannya, jadilah pameran ini,” jelasnya.

“(Tentunya) selain membongkar dapur (proses berkarya), (memamerkan) hutang-hutang, curhat-curhat cinta dan segala macam,” tandasnya tergelak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.