oleh

Kerap Dicap Seni Mistis, Kesenian Reak Tetap Eksis dengan Banyak Filosofi

Adanya sesajen dan orang kerasukan dalam pertunjukan Reak membuat banyak masyarakat menganggapnya sebagai seni mistis. Padahal jika dilihat dari sejarah dan pemaknaannya, kesenian Reak patut dilestarikan dan menjadi kebanggaan

Yanuar Baswata, Jabar Ekspres

Kesenian Reak sejak awal kemunculannya di wilayah Kabupaten dan Kota Bandung, Jawa Barat mendapat antusias yang tinggi dari masyarakat.

Perkembangan seni Reak tergolong pesat di daerah Bandung, karenanya setiap ada pagelaran oleh para pelaku seni Reak, kerap dipenuhi masyarakat yang menyaksikan keseruan dan ramainya pertunjukan.

Sayangnya, sejak memasuki tahun 2000 pertunjukan seni Reak mulai dianggap sebagai pagelaran yang berkaitan dengan ilmu mistis.

Tak jarang para pelaku kesenian Reak dicap sebagai pengguna ilmu sihir yang setiap melakulan pagelaran disebut selalu menghadirkan roh-roh untuk memeriahkan dan melancarkan pertunjukan.

Hal itu diakui oleh salah seorang seniman Reak, Abah Enjum, warga Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Dia sangat menyayangkan stereotipe atau pola pikir masyarakat yang memukul rata bahwa kesenian Reak sebagai pertunjukan mistis.

“Kesenian Reak mulai masuk ke Bandung itu dari tahun 1930, kemudian dipopulerkan oleh tokoh Abah Juarta dan Aki Rahma,” kata Abah Enjum kepada Jabar Ekspres di kediamannya.

Baca Juga:  Kesenian Reak Mendunia, Siap Tampil di Panggung Megah Eropa Utara

“Dari daerah Pantura ke Sumedang kemudian sampai ke Cibiru, malah tetap eksis dan lebih berkembang di Bandung,” lanjutnya.

Mengenakan totopong atau ikat kepala berwarna hitam, dipadukan dengan pakaian sehari-hari, Abah Enjum terlihat berkarisma. Alur kisah sejarah Reak dia paparkan secara rinci dan raut wajahnya yang selalu tersenyum menunjukkan bahwa Abah Enjum sangat mencintai kesenian Reak.

Pembahasan kesenian Reak dilanjutkan Abah Enjum, melalui pengembangan oleh tokoh Aki Rahma dan Abah Juarta, dijelaskannya mempunyai dua perbedaan.

“Abah Juarta punya wileta, ada wilahan. Jadi tepakannya tepakan Ibing, punya kuncinya. Dua-duanya ada kelebihan, kalau Aki Rahma lebih ke volume yang bernada tinggi,” ujar Abah Enjum sambil membawakan dua gelas kopi untuk menemani pembahasan kesenian Reak.

Abah Enjum yang menghayati pembicaraan mempraktikkan pengembangan seni Reak dari Aki Rahma. Mulutnya meniru musik pertunjukan Reak.

“Duk jedag duk jedag duk jedag duk jedag duk. Seperti itu pembawaan Aki Rahma. Sampai yang kerasukannya pun terlihat asik menari dalam pertunjukan Reak,” ucap Abah Enjum dengan senyuman hingga memperlihatkan gigi depannya.

Baca Juga:  Kesenian Reak Mendunia, Siap Tampil di Panggung Megah Eropa Utara

Rokok keretek pun dibakar ujungnya, usai menghisap rokok, Abah Enjum menjelaskan, pengembangan seni Reak oleh tokoh Aki Rahma dari wilayah Cibiru sampai ke daerah Timur. Sementara Abah Juarta, pengembangan seni Reaknya populer dipertunjukkan dari Cibiru sampai ke wilayah Barat.

“Tapi Abah Juarta punya wilahan, ada dug jedug bak dug jedug bak dug jedug bak dug, seperti itu tabuhannya. Begitu dimasukkan nada terompet dan kawih, gak akan kacau nadanya, karena punya kuncian,” papar Abah Enjum dengan kedua tangan digerakkan seakan mempraktikkan tengah dalam pertunjukan.

Abah Enjum pun menerangkan, kedua pengembangan seni Reak itu disebut sebagai Reak Bihari dan Reak Kiwari. Dia pun menegaskan, menggunakan pengembangan seni Reak Bihari oleh tokoh sesepuh Aki Rahma atau gaya seni Reak Kiwari yang dipopulerkan sesepuh Abah Juarta tidak jadi persoalan.

Abah Enjum sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi menyebutkan, pertunjukan seni Reaknya menggunakan gaya Bahari dan Kiwari, bahkan tak jarang dikombinasikan.

“Begitu caranya menghormati leluhur, tidak menggunakan satu (gaya seni Reak) terus saja sementara satunya lagi dilupakan,” imbuhnya lalu meminum kopi yang sudah tersaji.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.