Curah Kehabisan, Kemasan Kemahalan

Peredaran minyak goreng kemasan mendadak ‘licin’ di pasaran, tetapi harus dibayar mahal dengan harga barangnya yang kemahalan. Sementara harga minyak curah yang terbilang aman harus dibayar mahal dengan langka barangnya. Peredarannya pun mendadak ‘seret’ di grosiran.

Muhamad Nizar, Jabar Ekspres.

Sekali waktu, telepon seluler (ponsel) itu didekatkan ke telinga. Ada panggilan masuk di sana. Dedi Ferianto, 60, berharap menerima kabar baik soal minyak curah.

Sekali waktu yang lain, suasana muram tergambar jelas selepas menutup percakapan dengan seseorang dari seberang sambungan telepon.

“Minyak curah, stoknya masih kosong. Katanya belum ada kiriman ke para pedagang (grosir minyak, red),” jelasnya saat ditemui wartawan Jabar Ekspres di kediamannya, Sabtu (19/3).

“Kalau curah yang subsidi (harganya, red) tetap pada kisaran Rp10.500-an per liter. Namun itu di pasar. Biasanya, kadang kebagian, kadang kehabisan,” keluhnya.

Tiga dan dua hari

Terhitung hingga saat ini, Dedi mengaku sudah tak berjualan selama tiga hari lantaran langkanya minyak curah di grosir. Bukan tanpa usaha, dirinya justru termasuk ke dalam ‘kategori’ pedagang minyak yang kelewat rajin menyisir ketersediaan barang tersebut.

“Beberapa grosir se-Bandung Timur, stok minyak curah enggak ada. Kosong. Kalau alasan pedagang, memang, barang itu enggak ada. Berikut pengiriman barang tersebut lagi tidak ada,” ucap pedagang yang biasa berjualan di Pasar Kiaracondong tersebut.

Dia sebetulnya bisa saja berdagang dengan mengandalkan penjualan minyak kemasan, namun karena harganya kemahalan, Dedi sementara waktu ini memilih berhenti untuk berjualan.

Harga minyak goreng kemasan yang tiba-tiba melambung tinggi itu terjadi seusai dicabutnya harga eceran tertinggi (HET) dari kementerian. Per satu kilonya saja, harga yang ‘disesuaikan kembali dengan harga pasar’ itu menyentuh Rp23 ribuan lebih.

“Minyak kemasan tidak jualan karena mahal itu. Gimana mau jualan. Harga sampai Rp50 ribuan (per dua kilo) itu berapa mau jual ke pembeli,” ujarnya.

Ditambah keadaan sulit yang dirasakan para pedagang kecil langganannya. Dedi mengaku bahwa tidak sampai hati untuk menjual minyak kemasan dengan harga selangit.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan