BANDUNG – Koordinator Aksi ‘Kapitalisme Adalah Pandemi, Persatuan Perempuan Tertindas Adalah Solusi’ dalam International Women’s Day Kota Bandung, Sheila mengungkapkan terkait penanganan kekerasan seksual di sektor pendidikan.
“Kasus kekerasan seksual itu nyata tapi selama ini banyak yang tidak dilaporkan karena korban cenderung takut. Kondisi sosial yang belum memahami bagaimana harus memperlakukan korban,” ujarnya kepada wartawan Jabar Ekspres, Selasa (8/3) di depan Gedung Sate.
“Banyak kasus ketika naik orang di lingkungan itu langsung menghubungi korban, menanyakan kepada korban, bukan memberikan ruang aman. Itu menjadi hambatan, kenapa ada ruang pengaduan tapi sulit dilakukan,” sambungnya.
Baca Juga:Masuki Peralihan Musim, DLHK Depok Imbau Warga WaspadaPendaftaran Pejuang Cinta Baznas Depok Diperpanjang, Kesempatan Masih Terbuka
Aksi yang digagas aliansi Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Perempuan (PARAPUAN) ini pun menyuarakan soal kasus kekerasan seksual yang terjadi di beberapa kampus.
“Secara kampus keseluruhan belum ada, tapi kalau di kampus UPI tercatat dari tahun 2020-2022 ada sekitar 70 kasus yang masuk laporan resmi. Dan kita kemarin melakukan penjaringan di mahasiswa itu sudah ada sekitar 190 kasus tapi masih perlu divalidasi,” ucapnya.
Sheila mengaku, pencegahan juga penanganan sudah digencarkan sejumlah organisasi. Termasuk munculnya Simpul Gerakan Perempuan di beberapa kampus.
“Sudah mulai tumbuh di banyak kampus, Unpad, ISBI, ITB, dan sebagainya. Ini satu awal yang baik. Meski belum secara luas membahas isu gender itu tidak apa-apa, tapi membahas itu yang penting yaitu kekerasan seksual ini,” ungkapnya.
“Sudah cukup terbangun tapi Mash harus saling menguatkan. Masih terhambat karena dosen masih kerap belum mendukung,” tambahnya.
Barangkali, lanjut Sheila, hal demikian bisa terjadi lantaran minimnya dosen yang berperspektif gender. “Tingkat pendidikan tidak menentukan pemahaman gender, tapi apakah memang mempelajarinya atau tidak,” imbuhnya.
“Maka kalau ada profesor sekalipun kalau tidak mempelajarinya dia tidak akan aware terhadap penindasan yang terjadi pada perempuan,” pungkasnya. (zar)
