Polemik Analogi Suara Adzan Oleh Menag, Ini Tanggapan Ketua MUI Desa Sindang Galih

SUMEDANG – Polemik suara adzan yang dianalogikan dengan gonggongan anjing oleh Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas beberapa waktu lalu masih jadi sorotan publik.

Masyarakat menilai, batasan pengeras suara di masjid setiap adzan dan dianalogikan dengan gonggongan anjing itu tidak bisa diterima.

Menanggapi polemik suara adzan tersebut, Ketua MUI Desa Sindang Galih, Kecamatan Cimanggung, Sumedang, Yusup Nurdin  menyampaikan, suara adzan yang lantang kemudian dianggap terlalu bising hingga penganalogiannya disamakan dengan gonggongan anjing itu kurang baik.

Menurut Nurdin, sejatinya suara adzan itu harus dikumandangkan dengan lantang sebagai penanda memasuki waktu salat sekaligus mengajak umat Muslim beribadah.

“Karena dengan suara adzan bagi umat Islam, itu memberitahukan sudah waktunya memasuki waktu beribadah salat,” kata Nurdin kepada Jabar Ekspres, Jumat (4/3).

Dia menjelaskan, banyak masyarakat berpendapat mengenai level pengeras suara saat adzan dikumandangkan, perlu disikapi dengan bijak.

“Sudah dari dulu suara adzan itu dikumandangkan dengan lantang. Jadi bagi kita umat Islam, tetap jadikan adzan sebagai pengingat waktunya salat dan kumandangkan dengan lantang,” ujar Nurdin.

“Kita tidak akan melepas suara adzan, tidak akan dilepas. Karena itu sebagai isyarat masuknya waktu untuk salat,” tambahnya.

Nurdin menerangkan, salah satu diharuskannya suara adzan dikumandangkan dengan lantang adalah agar bisa terdengar oleh umat Muslim di setiap penjuru.

“Apalagi di kita ini, ketika waktunya salat bisa ada yang lagi aktivitas di kebun atau mungkin di tempat yang jauh, dengan adzan pakai pengeras suara bisa terdengar dan mengingatkan sekaligus mengajak shalat,” imbuhnya.

Nurdin menuturkan, pada kondisi saat ini umat Muslim harus bisa lebih berupaya mengendalikan hawa nafsu termasuk menyikapi suara adzan yang dinilai terlalu bising dan dianalogikan dengan gonggongan anjing.

“Mungkin ada dorongan-dorongan dari orang lain, tapi kita harus tetap di jalan Allah, suara adzan tetap digelar, tetap dengarkan suara adzan jangan sampai terpengaruh isu-isu yang bisa membuat kita jadi mengabaikan adzan panggilan salat,” ucapnya.

“Analogi suara adzan dengan gonggongan anjing itu sangat salah. Kita (umat Muslim) tetap istiqomah saja kumandangkan adzan dan tingkatkan keimanan dan ketaqwaan,” tutup Nurdin. (mg5)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan