Pedagang Tahu Tempe di Tasik Tak Ikut Mogok, Ini Sebabnya

Mogok Massal Pedagang Tahu Tempe di Pasar Cikurubuk Diduga Disabotase oleh Surat Edaran Palsu. Akibat surat palsu pedagang tetap berjualan
Pedagang Tahu Tempe di Pasar Cikurubuk tetap berjualan tahu dan tempe dan tidak ikut mogok massal, Diduga Disabotase oleh Surat Edaran Palsu.
0 Komentar

KOTA TASIKMALAYA – Tidak seperti di tempat lain, pedagang tahu dan tempe di pasar induk Cikurubuk Kota Tasikmalaya sebagian tidak ikut melakukan aksi mogok berjualan. mereka tetap menggelar dagangannya berjualan tahu dan tempe seperti biasa.

Hal ini sangat disesalkan oleh Himpunan Pedagang Tahu Tempe (HPPT) Kota Tasikmalaya, karena sudah sejak awal diberitahukan akan adanya aksi mogok tersebut, namun pedagang tidak kompak, dan masih berjualan.

Hal ini terungkap saat HPPT melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar induk Cikurubuk, Selasa (22/2). Saat sidak itu para pengurus HPPT masih menemukan pedagang yang tetap berjualan tahu tempe.

Baca Juga:Wagub Jabar Bantu Ponpes Miftahul Khoirot yang TerbakarAnak Pertama Auriel dan Atta Halilintar Lahir di Tanggal Cantik

Sidak sendiri dilakukan untuk memastikan agar pedagang kompak tidak berjualan. Hal itu karena saat ini pedagang tahu tempe tengah melakukan aksi mogok massal se-Indonesia sebagai bentuk protes mahalnya harga kacang kedelai.

Sementara pedagang tahu dan tempe di pasar Cikurubuk berdalih tetap berjualan karena adanya surat edaran. Diduga surat edaran itu palsu. Dimana di dalam surat itu disebut bahwa mogok massal tak jadi dilakukan.

“Kami tetap berjualan soalnya dapat surat edaran bahwa mogok massalnya gak jadi. Jadi kami di pasar masih pada jualan tahu dan tempe seperti biasa. Makanya, tadi saya bingung saat ada sidak ini, sedangkan kami sudah belanja dagangan,” ujar Koko (62), salah seorang pedagang tempe di Pasar Cikurubuk.

Kepada pengurus HPPT, Koko pun menunjukkan surat edaran palsu tersebut. Dan dalam kesempatan itu para pedagang meminta untuk menghabiskan stok tahu tempe yang sudah dibelinya untuk dijual ke pembeli di pasar.

“Kalau saya tak habiskan dagangan, saya rugi dong Pak. Bagaimana saya bawa uang untuk anak istri di rumah kalau begitu,” terangnya.

Sementara itu, Nenah (48), pedagang tempe lainnya sempat adu argumen saat diminta berhenti berdagang sebagai kekompakan protes kenaikan harga kedelai lewat aksi mogok massal.

Dia pun sama mendapatkan surat edaran sebelumnya yang menginformasikan bahwa aksi mogok massal tak jadi.

Baca Juga:Mogok Produksi, Sentra Tahu Cibuntu SepiPenyeragaman Harga Minyak Goreng di Jabar Belum Efektif

Sedangkan, dirinya sama dengan pedagang lainnya sudah membelikan uang modal untuk tahu dan tempe yang dijualnya di pasar.

0 Komentar