CIMAHI – Salah seorang guru di Kota Cimahi dinyatakan positif Covid-19 setelah dinyatakan melalui hasil test swab PCR.
Maka dari itu, pelaksanaan kegiatan pembelajaran tatap muka di salah satu sekolah swasta tersebut untuk sementara dihentikan.
Sebelumnya, Dinkes dan Disdik Kota Cimahi melakukan tes swab PCR terhadap 380 orang guru dan siswa SD di Kota Cimahi yang dijadwalkan menjalani swab test PCR acak pada Kamis (18/11) kemarin.
Baca Juga:Kapolres Cimahi Gelar Giat Bakti Sosial di Desa Cihanjuang KBBDKR Serukan Manfaat Garam Krosok untuk Antisipasi Lonjakan Covid-19
“Dari 340 sampel yang diambil, hasilnya sudah keluar pengujiannya terhadap 277, dari 277 itu 276 negatif dan 1 orang guru positif dari SMP Swasta,” kata Kadisdik Kota Cimahi, Harjono saat ditemui di Posyandu Samoja, Jumat (19/11).
Tindakan yang akan dilakukan oleh Disdik, lanjut kata dia, akan membuat laporan pada Plt. Wali Kota Cimahi, Ngatiyana untuk meminta penanganannya.
“Tindakan kami lakukan pelaporan pada Pak Plt. Wali Kota Cimahi dan saya putuskan untuk melapor pada Bu Asisten juga sudah disampaikan oleh Kepala Sekolah kemarin bahwa penanganannya pada guru bersangkutan yang diisolasi,” ujarnya.
“Sampai hari ini baru satu orang yang positif dan kami segera melakukan kroscek ke lapangan dengan tracing dan testing,” katanya.
Untuk mengecek kembali, Dinas Kesehatan Kota Cimahi adakan kegiatan test swab di sekolah swasta tersebut.
“Dinas Kesehatan juga adakan test swab di satu sekolah karena berdasarkan informasi yang masuk dikami bahwa guru tersebut baru satu bulan mengajar di sekolahan tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, selama dua minggu terakhir ini guru tersebut baru ke sekolah dan kontak dengan guru yang lainnya dengan siswanya relatif kecil.
Baca Juga:Kejar Target Akhir Tahun, Dinkes Bandung Kebut Vaksinasi Lansia dan RemajaTrimulia dan BPK Penabur Cirebon Berbagi Gelar
Maka dari itu, bentuk solusinya siswa tidak diperbolehkan untuk keluar dari asrama selama 14 hari dan untuk materi pada mata pelajaran masih diberikan melalui daring.
“Selama dua minggu terakhir ini baru ke sekolah jadi kontak dengan siswa maupun guru yang lain itu relatif sangat kecil tetapi bentuk antisipasinya ada maka semua siswa yang di asrama tersebut tidak boleh keluar selama 14 hari,” jelasnya.
“Pelajaran tetap diberikan karena untuk mereka masih bisa, dan anak-anaknya tidak dipulangkan,” tutup Harjono. (mg3)
